top of page

Coworking Space: Ruang Publik, Kelas Sosial, dan Kolaboratif yang Terkotak-kotak

Updated: Apr 10, 2019

Current literature suggests that nonstandard forms of employment have become commonplace within a highly individualised labour market in which urban professionals work as a casualised, project-based and freelance workforce (Cappelli and Keller, 2013; Osnowitz, 2010).

Pernyataan ini sengaja kami taruh sebagai pembuka dari tulisan—yang semoga saja—tidak terlalu singkat untuk dibaca. Berangkat dari fenomena tenaga kerja lepas dan berbasis proyek—yang jumlahnya kini tidak sedikit—kami mencoba untuk melihat cara baru dalam menjalani kehidupan kerja yang nomaden dan genting dalam konteks professional yang terpecah-pecah ini. Secara khusus, dalam lanskap perkotaan, kami menyadari adanya fenomena menarik yang muncul beberapa waktu terakhir ini; yang disebut dengan istilah “ruang kerja bersama” (coworking spaces).


Fenomena coworking space muncul seiring dengan banyaknya bisnis start-up dan freelance job, dapat dikatakan hal ini merupakan alternatif dari ruang di gedung perkantoran yang relatif mahal dan tidak sembarang akses. Istilah “coworking space” sebenarnya sudah cukup lama dicetuskan oleh Bernard Brian DeKoven pada 1999.


Namun, tempat kerja yang benar-benar memakai nama coworking space baru muncul di tahun 2005 di San Francisco, Amerika Serikat. Di Indonesia sendiri, konsep coworking space diterapkan sejak 2010 oleh anak-anak muda di Bandung. Konsep ini kemudian mulai bermunculan pada kota-kota besar seperti Surabaya, Jakarta, Yogyakarta, dll. Dalam tulisan ini, kami mencoba membahas mengenai coworking space di Yogyakarta melalui pengalaman kami ketika berada di Sinergi Coworking Space.


Sinergi Coworking Space di sore hari! (Dokumen pribadi)

Konsep “Coworking Space”: Kolaboratif dan Sharing

Definisi dari coworking space—hampir di banyak tulisan—sama, yaitu ruang yang digunakan untuk bekerja, menghasilkan karya dengan bekerja sama, baik antar individu maupun perusahaan yang memiliki latar usaha berbeda. Sederhananya, ruang kerja bersama.


Hanya saja, konsep ini digunakan dalam konteks yang berbeda-beda. Dalam lanskap yang lebih spesifik—the knowledge labour market—ruang kerja bersama dikonotasikan dengan harapan menjadi model kerja baru dalam konteks ekonomi kolaboratif dan sharing (Botsman dan Rogers, 2011). Hal ini berkaitan dengan peningkatan keterampilan dan pemberdayaan nyata bagi pekerja perkotaan; juga dikenal dengan istilah “kelas kreatif” dan “kota kreatif” (Florida, 2002).


Dalam konteks lain, konsep coworking space dihadirkan sebagai ruang dimana semua pekerja posisinya setara, tidak mengenal yang mana atasan yang mana bawahan seperti halnya kerja di kantor konvensional umumnya. Hal ini berkaitan dengan pembentukan sifat relasi yang egaliter (Yasha, 2018).


Begitu juga dalam konteks bisnis, salah satunya start-up, coworking space hadir sebagai ruang dengan mengedepankan konsep sharing (berbagi) yang juga mencakup jejaring dan kolaborasi. Dengan adanya kenalan dan kemungkinan berkolaborasi, bisnis memiliki peluang untuk berkembang lebih pesat karena banyaknya kesempatan dan juga inspirasi.


Jumlah coworking space di kota-kota besar Indonesia bertumbuh pesat seiring dengan perkembangan bisnis start-up dan bisnis independen lainnya ("Proliferation of startups fuels coworking space business", 2019). Hal ini kemudian membuktikan bahwa ruang yang diperlukan untuk menjalankan suatu bisnis tidak membutuhkan ruang privat yang tersegmentasi, tapi bisa mempergunakan ruang publik yang lebih fleksibel.


Pengalaman kami berada di Sinergi Coworking Space—sedikit banyak—dapat melihat adanya konsep kolaboratif dan sharing baik dari segi ruang (fisik) yang disediakan, pengunjung, maupun fasilitas yang ada. Mulai dari ruang yang tersedia, Sinergi menyediakan dua ruang terpisah, yakni ruang indoor dan outdoor yang sama-sama didesain untuk menjadi ruang kerja yang fleksibel. Selain ruang indoor maupun outdoor, Sinergi juga menyediakan office space di ruangan yang lebih tertutup. Manapun ruang yang menjadi pilihan pengunjung, agenda mereka ketika tiba di Sinergi tidak jauh-jauh dari memesan minuman maupun makanan, membuka laptop, dan fokus ke urusannya masing-masing.


Fasilitas berupa colokan listrik yang tersedia di hampir seluruh meja semakin mendukung para pengunjung untuk bekerja sambil membuka laptop. Selain meja-meja pada umumnya, disediakan pula meja komunal atau yang biasa disebut sebagai community table. Meja tersebut berukuran cukup besar dan dapat menampung sekitar enam sampai delapan orang, serta disediakan colokan listrik yang cukup memadai banyak gawai yang dibawa pengunjung.


Desain interior dan nuansa yang dihadirkan dalam Sinergi Coworking Space (diambil dari https://dev.tambo.co.id/co-working-space-di-jogja-yang-patut-kamu-coba-demi-kelancaran-tugasmu/).

Tidak menutup kemungkinan adanya “kreatif” yang dimunculkan melalui desain interior, yang juga dapat diasumsikan mendorong kekreatifan pengunjung dalam melalukan aktivitasnya (entah mengerjakan sesuatu, mencari ide, atau lainnya). Sinergi mewujudkannya dengan menggunakan warna-warna earthy sehingga pengunjung dapat merasa nyaman dan betah karena minimnya warna-warna yang bentrok. Selain itu, permainan tekstur meja, kursi, maupun sofa tampak selaras dengan tema warna yang menjadi pilihan, sehingga segala hal visual maupun tekstural tampak selaras.


Meskipun demikian, Sinergi tidak luput dari adanya beberapa warna yang cukup mencolok, seperti merah pada artspace dan hijau pada logonya sendiri. Warna-warna tersebut seakan menjadi ciri khas tersendiri dari Sinergi. Desain yang diangkat di Sinergi ini memberi rasa asri pada pengunjungnya, mengangkat tema alam dengan didominasi dengan warna coklat dan hijau yang merepresentasikan daun-daun dan pepohonan sehingga kami sebut earthy tadi.


Warna-warna lain yang digunakan di sini adalah warna biru gelap dan merah gelap. Siang itu, kami berada di bagian luar, interiornya terdiri dari meja-meja dengan hiasan bermotif kayu, begitu juga dengan kursi-kursinya. Meja-meja yang ada di sini berbentuk unik karena di dalamnya ada pohon palem yang berukuran medium sehingga kami bekerja mengelilingi pohon. Pohonnya sendiri kering sehingga tidak terlalu bagus menurut kami.


Fasilitas lain yang ditawarkan adalah alunan musik yang menghanyutkan, stop kontak untuk charging gawai yang dimiliki dan dibawa pengunjungnya, rak-rak di tengah, serta ada kolam-kolam airnya juga. Selain itu terdapat layar dan panggung kecil yang berada di tengah dan terdapat artspace di sebelahnya serta ada meja untuk kebutuhan mencetak dokumen dan komputer. Selain sofa yang berjumlah dua buah yang sangat santai, kursi-kursi yang ada di sini memang didesain untuk duduk dan bekerja. Ukurannya sendiri kecil dan sandarannya terbuat dari kayu sehingga membuat punggung menjadi sakit.


Membandingkan Coffee Shop dan Coworking Space

Secara umum, coworking space biasanya sudah menyediakan fasilitas esensial untuk bisnis, misalnya meeting room untuk bertemu dengan klien dan juga diskusi tim. Sebagian coworking space juga menyediakan alamat virtual untuk keperluan legalitas surat menyurat.


Coffee Shop

Kelebihan berkantor di coffee shop bisa digunakan berlama lama dengan memesan makanan atau minuman yang dijual oleh pihak coffee shop, memudahkan untuk bertemu dengan orang lain dan dapat digunakan sebagai tempat meeting, coffee shop menyediakan akses internet yang dapat digunakan oleh konsumennya, harganya lebih murah dibandingkan menyewa coworking space (apabila digunakan dalam kisaran waktu tidak lebih dari 3 jam karena pelayan coffee shop biasanya menawarkan konsumen untuk memesan makanan lagi).


Kekurangan berkantor di coffee shop. kerja tidak bisa fokus karena banyak pengunjung lain yang keluar masuk dan berisik, pergaulan sesama start-up menjadi terbatas, sulit mengatur jam kerja, relasi kerja lebih sempit (hanya teman-teman satu kelompok start-up), sulit dicari oleh investor karena alamat tidak pasti.


Coworking Space

Kelebihan coworking space antara lain lebih tenang dan nyaman untuk bekerja, bisa berinteraksi dengan start-up satu sama lain dengan adanya komunitas start-up dan mentoring, investor lebih mudah untuk menemukan para pelaku bisnis di coworking space, menyediakan tempat meeting.


Kekurangan coworking space harganya lebih mahal dibandingkan coffee shop (apabila pekerjaan yang dilakukan tidak lebih lama dari 3 jam) namun apabila pekerjaan yang dilakukan dapat memakan waktu seharian maka pilihan untuk memanfaatkan coworking space lebih bijak dari segi keuangan.


Bagi mereka yang memiliki modal lebih, biasanya sudah langsung menyewa kantor sendiri atau memanfaatkan coworking space. Sedangkan mereka yang bermodal pas-pasan, biasanya mencari tempat alternatif yang bisa dipakai sebagai tempat bekerja seharian dan sekaligus bisa digunakan sebagai tempat meeting.


Konsep yang ditawarkan coworking space belum bisa sepenuhnya diterima oleh para start-up baru. Terutama soal biaya yang harus dikeluarkan setiap bulannya untuk mendapatkan tempat bekerja. kebanyakan start-up pemula memilih bekerja di rumah, bagi yang memiliki rumah, atau kamar kos, walaupun sebenarnya memanfaatkan coworking space tidaklah mahal apabila dibandingkan dengan keuntungan yang didapat.


Ruang Publik Tersegmentasi: Kelas sosial dan Kolaboratif yang Terkotak-kotak

Terciptanya coworking space yang bertujuan untuk mengumpulkan individu yang bekerja ke dalam satu tempat merupakan suatu perwujudan dari ruang publik yang terbentuk dengan sengaja oleh pencipta coworking space.


Coworking space diciptakan untuk mengeluarkan para profesional independen yang merasa terisolasi dari profesional lain, sehingga memudahkan para profesional untuk saling berkolaborasi ("Coworking Space, Ruang Inklusif untuk Berkolaborasi - Ziliun", 2019). Ruang publik yang tercipta karena keberadaan coworking space kemudian memperbolehkan terjadinya difusi dalam ruang yang disebut “kota kreatif” (Gandini, 2015). Meskipun terjadi difusi seperti yang dinyatakan oleh Gandini, coworking space menjadi ruang publik yang tersegmentasi. Hal yang dimaksud dengan ruang publik yang tersegmentasi adalah terdapatnya individualisme yang masih kental dalam ruang publik yang komunal seperti di coworking space.


Kami menemukan sekaligus menyadari hal menarik dari ruang publik yang terbentuk di Sinergi Coworking Space. Sederhana saja, kami melihat dominasi laptop bermerek ap*le. Bukan rahasia lagi kalau harga laptop tersebut belasan juta rupiah, bahkan lebih. Hal lain yang kami lihat adalah minuman yang juga disertai makanan sebagai pesanan orang-orang di Sinergi. Secara khusus, kami melihat harga rata-rata minuman tiga puluh ribu, dan makanan yang mencapai empat puluh ribu. Maka dari itu, kami beranggapan bahwa coworking space ini diisi oleh pengunjung kelas menengah ke atas.


Bila diklasifikasikan, kami melihat ada beberapa jenis pengungjung; mahasiswa, freelancer, dan pekerja pada umumnya. Mahasiswa cukup mendominasi, baik yang kerja individu maupun berkelompok. Kami juga menemukan sekelompok mahasiswa—disinyalir urusan organisasi—memakai salah satu ruang meeting yang disediakan. Sementara itu, freelancer kami asumsikan dengan beberapa meja yang diisi oleh dua-tiga orang yang sedang berdiskusi sambil menunjuk layar laptop. Melalui raut muka dan gerak tangan, dapat dianggap mereka bukan sekedar kerja kelompok layaknya mahasiswa namun sedang mengerjakan proyek tertentu.


Bila ketiga jenis klasifikasi ini dikaitkan dengan kelas sosial—yang kami sempitkan “menengah ke atas”—kami menemukan hal baru yang disebut “safety net”. Safety net memperbolehkan seseorang menjadi freelancer atau kerjaan apapun yang independen karena memiliki latar belakang kelas sosial menengah ke atas. Latar belakang yang dimaksud bisa jadi orang tua atau saudara. Dari sini, coworking space bukan hanya berbicara mengenai ruang secara fisik, namun juga ruang untuk melihat klasifikasi pengunjung berdasar kelas sosial.


Selain kelas sosial, kami masuk ke dalam hal yang mungkin lebih abstrak. Kami membayangkan adanya kolaboratif—seperti yang kami tulis di subbab pertama—namun terkotak-kotak. Singkatnya, kalaupun ada “kolaboratif”, munculnya hanya di dalam satu kelompok, atau juga satu ruang (meeting room). Hal ini terjadi karena memang tiap pengunjung hanya bekerja sendiri atau bersama dengan teman, kolega, atau kliennya masing-masing. Tidak ada interaksi yang terjadi antar orang atau kelompok yang berbeda (tidak saling kenal).


Kami lebih setuju menyebutnya dengan istilah “kreatif”, dimana setiap individu ataupun kelompok bisa saling berkreatif mengerjakan sesuatu.


Lepas dari permainan kata atau istilah yang tidak perlu diperdebatkan, kami menemukan—setidaknya—tiga hal yang terbentuk dari coworking space. Pertama, ruang publik yang menghadirkan kondisi working alone together. Kemudian kelas sosial menengah ke atas yang dilihat dari penggunaan laptop dan pemesanan makanan, hal ini juga kami kaitkan dengan “safety net”. Terakhir, adanya “kolaboratif” yang terkotak-kotak, baik karena ruang (fisik) maupun keterbatasan interaksi.


Tulisan yang berisi kolaborasi--dan cukup kreatif--ini kami cukupkan sampai di sini dulu. Pengalaman sekaligus pembahasan yang berusaha dituangkan di sini, semoga saja, tidak menjadi satu-satunya dan justru dapat dikembangkan maupun ditelisik secara lebih dalam. Akhirnya, kami sempatkan untuk mengirim harapan sekaligus doa "bahagia selalu" semuanya!


Ditulis oleh Charistya Herandy, Athif Tsabit, Shafira A. P, dan Ali Akbar-- di Bulan April yang diselingi hujan namun tetap terasa gerah.


Refrensi

  1. Botsman, R. and R. Rogers (2011) What’s mine is yours: How collaborative consumption is changing the way we live. New York: Collins.

  2. Cappelli, P. and J.R. Keller (2013) ‘Classifying work in the new economy’, The Academy of Management Review, 38(4): 1-22.

  3. Florida, R. (2002) The rise of the creative class. New York: Basic Books.

  4. Gandini, A. (2015). The rise of coworking spaces: A literature review. ephemera, 15(1), 193.

  5. Osnowitz, D. (2010) Freelancing expertise: Contract professionals in the new economy. Cornell University Press.

  6. Spinuzzi, C. (2012). Working alone together: Coworking as emergent collaborative activity. Journal of Business and Technical Communication, 26(4), 399-441.


Website

  1. BEST Coworking Space, Konsep Kantor Masa Depan Dibuka di Jimbaran. (2019). Retrieved from https://www.nusabali.com/berita/46813/best-coworking-space-konsep-kantor-masa-depan-dibuka-di-jimbaran

  2. Bisnis.com. (2019). Coworking Space Jadi Penyelamat Bisnis Perkantoran | Ekonomi - Bisnis.com. [online] Available at: https://ekonomi.bisnis.com/read/20181220/47/871806/coworking-space-jadi-penyelamat-bisnis-perkantoran [Accessed 3 Apr. 2019].

  3. Coworking Space, Ruang Inklusif untuk Berkolaborasi - Ziliun. (2019). Retrieved from https://www.ziliun.com/coworking-space-ruang-inklusif-untuk-berkolaborasi/

  4. Coworking Space Jadi Penyelamat Bisnis Perkantoran | Ekonomi - Bisnis.com. (2019). Retrieved from https://ekonomi.bisnis.com/read/20181220/47/871806/coworking-space-jadi-penyelamat-bisnis-perkantoran

  5. Coworking Space Asal Belanda “Spaces” Resmikan Kehadiran, Sasar Penggiat Startup Lokal dan Multinasional | Dailysocial. (2019). Retrieved from https://dailysocial.id/post/coworking-space-belanda-spaces-jakarta/

  6. Hidayati, N. (2019). Kota Malang Bakal Punya Coworking Space di Setiap Kecamatan. Retrieved from https://beritabaik.id/read?editorialSlug=indonesia-baik&slug=1552970005390-kota-malang-bakal-punya-coworking-space-di-setiap-kecamatan

  7. Kresna, M. (2019). Coworking Space atau Warung Kopi, Pilih Mana? - Tirto.ID. [online] tirto.id. Available at: https://tirto.id/coworking-space-atau-warung-kopi-pilih-mana-b5UU [Accessed 3 Apr. 2019].

  8. Pengertian Coworking Space| Coworking Space adalah ruang kerja bersama. Retrieved from https://voffice.co.id/jakarta-virtual-office/business-tips/what-is-coworking-space/

  9. Perkembangan Coworking Space di Indonesia . (2018). Retrieved from https://www.dewaweb.com/blog/coworking-space-indonesia/

  10. Perusahaan Asing Berebut Cuan dari Bisnis Coworking Space - Katadata News. (2019). Retrieved from https://katadata.co.id/berita/2018/10/26/perusahaan-asing-berebut-cuan-dari-bisnis-coworking-space

  11. Proliferation of startups fuels coworking space business. (2019). Retrieved from https://www.thejakartapost.com/news/2019/03/26/proliferation-of-startups-fuels-coworking-space-business.html

Recent Posts

See All

1 Comment


KMP
KMP
Apr 12, 2019

Semacam mupeng: "kami melihat dominasi laptop bermerek ap*le. Bukan rahasia lagi kalau harga laptop tersebut belasan juta rupiah, bahkan lebih." :))

Like

Subscribe

LOGO UGM.jpg
LOGO KEMANT.jpg

Gd. R. Soegondo lt. 5 FIB UGM
Jl. Sosiohumaniora No. 1
Bulaksumur, Yogyakarta 55281

Crafting Ethnography 

Departemen Antropologi FIB-UGM

  • Twitter

©2018 'Crafting Etnography' Creative Team

bottom of page