Kesehatan dan Kawan-Kawan
- Priyanca M C Soselisa

- Dec 28, 2018
- 9 min read
oleh Priyanca M. C. Soselisa dan Michael Don Lopulalan
Masing-masing disiplin ilmu mengemban sudut pandang yang terbatas demikian pula dengan kosa kata yang termaknai di dalamnya. Setiap kata kunci atau kata tertentu akan dimaknai sejauh cakrawala suatu disiplin ilmu dapat terus teraplikasikan. Cara setiap disiplin ilmu memberi definisi terhadap suatu kata juga dapat menjadi suatu gambaran disiplin ilmu memperlakukan sebuah sisi kenyataan.
Meskipun setiap ilmu terlihat mempunyai keterbatasan dalam mendefinisikan kata, setiap ilmu juga mempunyai berbagai sisi unik dalam melihat serta memaknai suatu kata yang sekilas mungkin tidak selaras dengan disiplin ilmu. Dengan kesadaran bahwa setiap ilmu mempunyai keterbatas—serta ketidakbatasan, kami memutuskan untuk melakukan studi komparasi pemaknaan ‘kesehatan’ dalam berbagai disiplin ilmu.
Pemilihan kata ‘kesehatan’ dalam studi komparasi ini muncul dari pertimbangan bahwa kata ‘kesehatan’ sebenarnya merupakan istilah yang cukup umum, demikian pula dengan pemaknaan yang tentu beragam. Meskipun sekilas ‘kesehatan’ hanya dapat dimaknai dari segi biologis dan kedokteran, istilah itu tersendiri dapat ditilik dari sisi konsep. Cara setiap disiplin ilmu memaknai ‘kesehatan’ adalah cara suatu displin ilmu memandang serta memahami konsep.
Keinginan untuk menilik keberagaman pemaknaan tentang istilah ‘kesehatan’ juga merupakan keberlanjutan dari kesadaran kami atas pemaknaan ‘kesehatan’ yang sangat terbatas dalam ilmu Antropologi Budaya. Dalam Antropologi Budaya, isitlah ‘kesehatan’ cenderung dipahami dan dilihat sebagai satu buah aspek dalam sistem sosial yang saling terkait erat dengan aspek lainnya seperti gender dan politik. Antropologi Budaya melihat konsep ‘kesehatan’ sebagai konsep yang dipengaruhi serta mempengaruhi cara orang memandang kehidupan mereka sendiri. Melalui kata yang dipakai untuk mendefinisikan ‘sehat’ dan ‘sakit’ atau ‘hidup’ dan ‘mati’, maka dapat dilihat cara suatu masyarakat memahami konsep kesehatan yang tentu saja kemudian dapat teraplikasi melalui sarana dan pra-sarana yang berhubungan dengan bidang kesehatan.
Melihat keberagaman sudut pandang ilmu Antropologi Budaya dalam menilik konsep kesehatan, kami ingin memberi angin segar kepada pikiran kami dengan mencoba memahami cara disiplin ilmu lain melihat konsep kesehatan. Oleh karena itu, melalui tulisan ini kami akan memberi sedikit pemaparan serta penjelasan yang didapat dari hasil wawancara terhadap beberapa mahasiswa dari berbagai disiplin ilmu. Selain melakukan studi komparatif dalam cara pandang suatu konsep, kami juga ingin melihat tentang kemungkinan adanya satu poin utama yang menghubungkan konsep kesehatan dalam disiplin ilmu yang berbeda. Atau jikalau semisal sangat berbeda perihal pemahaman konsep, kami juga ingin menilik perbedaan yang terdapat di antara disiplin ilmu yang berbeda, misalnya perbedaan antara ilmu sosial-humaniora dengan eksakta.
Tulisan ini akan terbagi melalui tiga bagian besar yaitu pendahuluan, pemaparan wawancara, serta penutup. Pendahuluan menjelaskan latar belakang serta gagasan yang berusaha dibawakan oleh penulis dalam tulisan ini. Pemaparan wawancara berisi mengenai konsep kesehatan yang dipaparkan oleh kawan narasumber yang akan ditulis secara naratif. Terakhir, penutup berusaha merangkum serta menjawab pertanyaan dan mempertegas gagasan yang penulis sampaikan di bagian penutup.
Melalui tiga bagian tersebut, penulis berharap pembaca dapat memahami bahwa perbedaan konsep suatu istilah—serta implikasi dalam melihat suatu fenomena—sangat mungkin terjadi. Oleh karena itu, kesabaran sangat dibutuhkan untuk sejenak mengambil jarak lalu mencoba memahami perbedaan sudut pandang disiplin ilmu lain.
Dengan berusaha memandang sesuatu konsep dalam sudut pandang emik, kami mencoba semaksimal mungkin untuk memaparkan wawancara kami dengan baik. Selain itu, kami juga berusaha untuk fleksibel dan terbuka untuk mencoba memahami wawancara tersebut.
Kedokteran dan Food Producing: Kesehatan Jasmani
Kesehatan secara fisik, secara umum, merupakan kondisi manusia yang tidak sedang terganggu ataupun terserang penyakit. Manusia pasti pernah merasakan yang namanya sakit, baik itu sakit mata, sakit gigi, aupun sakit hati, dan ujungnya beberapa dari mereka akan berobat. Dalam penjelasan kesehatan fisik ini, kami mewawancarai beberapa orang yang kami anggap memiliki hubungan dengan topik kami. Orang pertama yang kami wawancarai adalah mahasiswi Kedokteran semester 3 di Universitas Pattimura bernama Virgylony Titiheru, yang selanjutnya akan disebut sebagai V. Kedua, mahasiswi Kedokteran Gigi Universitas Sam Ratulangi di Sulawesi semester 3 bernama Glady Anastasia, yang selanjutnya akan disebut G. Ketiga, mahasiswa perhotelan di NHI Bandung jurusan Food Producing bernama Rocky Thie, yang selanjutnya akan kami sebut R.
Menurut V, dalam jurusannya yaitu kedokteran, menyebutkan bahwa kesehatan merupakan saat organ-organ manusia berfungsi sebagaimana mestinya (normal dan stabil), tanpa ada gangguan atau keanehan. Kesehatan merupakan prioritas seorang ‘calon dokter’. Menurut V sendiri, tugas seorang dokter ialah untuk memastikan pasien yang mereka akan tangani menjadi sehat. V melanjutkan, secara operasional, seorang dokter adalah seorang tenaga kesehatan yang menjadi tempat kontak pertama pasien untuk menyelesaikan masalah kesehatan maupun keluhan yang dialaminya. Dokter juga diharapkan untuk mehadapi keluhan tanpa memandang jenis penyakit, usia, dan jenis kelamin sedini dan semaksimal mungkin. Tuntutan sebagai calon dokter ini yang membuat jurusan kedokteran sangat menganggap serius makna kesehatan.
Selain kesehatan secara jasmani, mahasiswa kedokteran ini juga diharapkan untuk menjaga kesehatan mental pasien atau keluarga pasien. Hal ini dikarenakan dalam ilmu Kedokteran, kesehatan mental juga tidak bisa dilepaspisahkan dari kesehatan fisik. Istilah Healthy Mind Makes A Healthy Body dipegang oleh ilmu tersebut. Berbagai informasi yang akan mereka sampaikan kepada para pasien atau keluarga pasien harus semaksimal mungkin difilter agar pasien atau keluarganya tidak measa terpuruk atau merasakan ‘beban moral’.
Selanjutnya ialah G. Kesehatan menurut studi Kedokteran Gigi ialah kondisi area rongga mulut yang terbebas dari penyakit dan gigi bertubuh lengkap tanpa ada kelainan. Dengan berbagai istilah medis, yang kami kurang mengerti, G menunjukan antusiasnya dalam membahas tentang kesehatan area rongga mulut. Standar dalam kesehatan gigi ialah OHIS (Oral Health Index Simplified), PUFA dan CPITN (Community Periodontal Index for Treatment Needs). OHIS ialah pengukuran kalkulus (karang gigi) dan debris gigi. Indeks PUFA, lanjutnya, merupakan pengukuran derajat keparahan yang mengukur penyakit akar gigi pembengkakan dan lainnya. Pentingnya kesehatan dalam kedokteran gigi, lanjut G, dikarenakan gigi merupakan gambaran secara menyeluruh kesehatan manusia. Banyak penyakit yang diderita oleh seseorang tersebut awal mulanya berasal dari kesehatan giginya, akibat dari kuman atau bakteri yang ada di rongga mulut masuk kedalam tubuh dan menyebabkan munculnya penyakit seperti penyakit jantung, ginjal dan lain-lain. Untuk itu sangat penting bagi setiap orang untuk merawat giginya dengan baik agar kesehatan tubuhnya tetap terjaga.
Jika dilihat dari ilmu Kedokteran, baik secara umum maupun khusus pada organ tertentu, ilmu Kedokteran menurut narasumber kami, kesehatan bisa didapatkan melalui obat-obatan yang diminum oleh pasien. Karena kesehatan itu juga harus ada penanganan secara medis, menurut mereka.
Kalau menurut R, kesehatan menurut Food Producing, merupakan saat konsumen mereka selain puas juga terjaga fisiknya atas nutrisi yang mereka coba sediakan. Dalam dunia permasak-masakan, yang paling penting bagi merka ialah menjaga higienitas bahan-bahan yang akan mereka sediakan. Standar kesehatan mereka ialah HACCP (Hazard Analysis & Critical Control Point). HACCP merupakan suatu metode yang mengharuskan para produsen atau distributor makanan-minuman mengecek akan keamanan produk mereka.
Keamanan yang dimaksud ini ialah apakah masih segar dan pantas untuk dikonsumsi atau tidak. Dalam pemahaman para Food Producing ini juga mereka merasa terancam atas posisi mereka karena kadang kalau ada kasus keracunan, yang disalahkan adalah para koki tersebut.
Pada akhirnya, kesehatan secara jasmani menurut ilmu Kedokteran dan Food Producing, mereka menganggap fisik manusia merupakan hal yang sangat rapuh. Ilmu-ilmu ini merasa seakan-akan memegang peran penting dalam kesehatan manusia dan penanganan jika manusia sakit. Walaupun mereka mengaku tidak bisa dilepaspisahkan dengan mental, tapi ilmu-ilmu ini menganggap kesehatan jasmani manusia sebagai misi yang tidak boleh mereka gagalkan.
Psikologi: Kesehatan adalah Kesadaran Diri
Istilah kesehatan mempunyai arti yang sangat beragam tergantung dari disiplin ilmu yang memandang kata tersebut. Psikologi, sebagai sebuah ilmu yang memberi perhatian khusus kepada ranah psikologis, juga mempunyai definisi berbeda terkait dengan kesehatan. Definisi yang dipakai juga secara kontras berbeda dengan ilmu disiplin yang melakukan pendekatan secara fisik terhadap ranah kesehatan, misal kedokteran.
Dalam menilik konsep kesehatan dari disiplin Psikologi, kami melakukan wawancara dengan seorang mahasiswa program studi Psikologi S1 Sanata Dharma dengan inisial Mawar. Sebelum menjawab pertanyaan terkait disiplin Psikologi mendefinisikan kesehatan, Mawar bercerita tentang cara disiplin Psikologi memandang kesadaran dan ketidaksadaran.
Mawar menjelaskan bahwa kesadaran adalah tujuan utama dari ilmu Psikologi karena pengaturan kesadaran menuntun manusia kepada fase penentuan pilihan. Melalui kemampuan menentukan pilihan tertentu, manusia dapat terus membimbing kesadarannya yang juga berhubungan dengan manusia lainnya.
Kami sempat berhipotesa bahwa disiplin Psikologi adalah sebuah ilmu yang egois karena hanya menaruh fokus kepada seorang personal tanpa ada kaitan dengan personal lainnya. Tentu saja, hipotesa kami ini dipengaruhi oleh sudut pandang ilmu Antropologi Budaya dalam memandang kesehatan. Mawar lantas membalas hipotesa kami dengan argumen bahwa tingkat kesadaran yang berusaha dicapai oleh Psikologi juga mempertimbangkan relasi manusia tersebut dengan manusia lainnya. Dengan bimbingan yang diberikan kepada seseorang untuk mencapai tingkat kesadaran yang membantunya dapat menentukan pilihan secara benar, Psikologi telah membantu seseorang tersebut untuk melancarkan proses relasi dengan manusia lainnya. Tentu saja, pilihan ‘benar’ yang berusaha dipandu dan diajarkan dalam Psikologi tergantung standar moral suatu masyarakat. Oleh karena itu, sepanjang perkuliahan Psikologi yang diterima Mawar terus mendapat pengetahuan yang berupa sistem tertentu atau pengetahuan umum tertentu dalam memandang suatu sisi kesehatan mental.
Lantas, Mawar juga menjelaskan dengan cukup baik cara Psikologi memandang kesehatan—khususnya—mental dalam tiga sudut pandang: humanistik, psikoanalisa, dan menurut Gestalt.
Dalam aliran humanistik, ada tiga psikolog yang menjadi rujukan yaitu Gordon Allport, Abraham Malsow, dan Carl Rogers. Aliran humanistik memandang kesehatan mental sebagai kemampuan mengatur kepribadian. Manusia yang dapat mengatur kepribadian dirinya digolongkan kepada manusia sehat, sedangkan manusia yang tidak bisa mengendalikan kepribadian dirinya digolongkan manusia tidak sehat. Mawar juga menjelaskan bahwa pemahaman Allport selaras dengan Malsow dalam memandang konsep sehat dan sakit. Allport memandang manusia sehat sebagai manusia yang dapat memenuhi tingkat kebutuhan aktualisasi diri, sedangkan Malsow memandang sehat terdapat dalam kemampuan mengatasi kekuatan-kekuatan tak sadar (tak dapat dilihat dan dipengaruhi). Melalui pemaparannya, Mawar menegaskan bahwa aliran humanistik memberi penekanan kepada kemampuan manusia untuk menjadi rasional dan memahami posisi diri serta macam kekuatan yang menggandrunginya.
Pemahaman perihal kesadaran dalam aliran humanistik lantas cukup berbeda dengan aliran psikoanalisa yang memberi penekanan kepada ranah ketidaksadaran. Aliran yang dipopulerkan oleh Carl Gustav Jung dan Erich Fromm ini memandang kepribadian yang sehat sebagai pribadi yang dapat menerima hal misterius serta dapat bergerak serta spontan. Kebebasan pribadi dalam merespon secara spontan serta menerima ketidaksadaran sebagai sebuah bagian dari dirinya adalah patokan dalam melihat seseorang sehat secara mental.
Dalam aliran terakhir, Mawar menyatakan bahwa aliran ini sebenarnya cukup mirip dengan psikoanalisa. Perbedaan kemudian terdapat pada anggapan bahwa pengorganisasian mental manusia adalah sebuah struktur. Dalam memandang pengorganisasian mental manusia sebagai sebuah struktur, Gestalt memberi ruang bagi manusia untuk tetap berperan aktif melalui pembelajaran serta penyadaran terhadap isu mental tertentu.
Melalui pemaparan yang diberikan oleh Mawar, kami mendapat gambaran yang cukup jelas tentang cara disiplin Psikologi memandang kesehatan. Sesuai dengan pemaparan Mawar tentang kesadaran, standar kesehatan ditempatkan dalam tingkatan manusia sadar atas dirinya sendiri serta orang lain. Tingkat personal telah ditekankan oleh Allport serta Malsow kepada ranah aktualisasi diri. Sedangkan relasi dengan orang lain—yang mengamini peran manusia sebagai makhluk sosial—juga ditegaskan oleh aliran psikoanalisa serta Gestalt yang memberikan kata kunci ‘spontan’ serta ‘pembelajaran’. Spontan tentu sebuah reaksi kepada suatu fenomena atau orant tertentu, sedangkan pembelajaran dapat terlaksana melalui hubungan terus-menerus antara diri personal dengan orang lain.
Meskipun pemaparan dari Mawar masih memberi ruang untuk mempertanyakan konsep sehat-sakit yang mutlak, kami lebih memahami bahwa konsep kesehatan dalam ilmu Psikologi selalu dipasangkan dengan konsep kesadaran yang merujuk kepada tahap personal.
Filsafat: Kesehatan dalam Rasionalitas dan Logika
Setelah menilik konsep kesehatan dari ranah disiplin Psikologi yang memang dekat dengan kesehatan mental, kami mencoba mewawancara disiplin ilmu yang dianggap memiliki jarak dengan konsep kesehatan yakni ilmu Filsafat. Oleh karena itu, kami mewawancara seorang mahasiswa program studi S1 Filsafat Univeristas Gadjah Mada dengan inisial Asoka.
Ketika kami melontarkan pertanyaan tentang pemahaman mengenai istilah kesehatan, awalnya Asoka terlihat bingung dan tertarik pada satu waktu. Kami tentu memberi beberapa saat agar Asoka dapat menilik sebagian pengetahuan yang dia diterima sewaktu kuliah yang berhubungan dengan konsep kesehatan.
Asoka mengawali penjelasan tentang penekanan rasionalitas serta logika pada ilmu yang dipelajarinya. Rasionalitas merupakan penalaran, sedangkan logika adalah metode penalaran yang berwujud kaidah berpikir. Melalui dua istilah inilah, pembicaraan kami dan Asoka terus berlanjut.
Dalam perihal kesehatan, Asoka sedikit merujuk kepada mata kuliah Filsafat Cina Modern Kontemporer. Melalui mata kuliah tersebut, terdapat salah satu studi kasus yang menjelaskan proses pengobatan Cina yang menekankan kepada sugesti. Penyembuhan penyakit melalui pemahaman terhadap sugesti dirasa ampuh karena pengobatan tersebut memberi penekanan kepada konsep sakit dan kenyataan ‘sakit’ itu sendiri. Dengan berpikir bahwa sakit itu muncul dalam diri, seseorang tersebut dapat semakin sakit dan tak kunjung sembuh. Namun dengan menyadari bahwa sakit yang ada pada dirinya didukung juga oleh pemikiran sakit yang diemban oleh pikirannya, maka rasa sakit akan cenderung berkurang dan beralih sembuh.
Tentu saja, pengobatan Cina tidak sesederhana itu. Terlebih dahulu, para biksu yang berperan dalam pengobatan telah mempelajari masing-masing peran serta dampak organ tubuh. Ginjal dapat menyebabkan rasa gelisah, hati dapat menyebabkan rasa takut, dan paru-paru dapat menyebabkan rasa cemas. Pengetahuan empirik atas organ dan dampak yang diberikannya tersebut diatur melalui pengaturan sugesti. Dengan melepaskan sugesti ‘aku sakit’, dampak yang diberikan organ-organ tersebut dapat berkurang.
Pemisahan pengalaman empirik dan sugesti dilanjutkan pula dengan pembahasan apriori dan apost-teriori. Apriori adalah pengetahuan berbasis pengalaman empiris, sedangkan apost-teriori adalah pengetahuan yang berlandaskan gagasan serta ide. Sebenarnya, manusia telah mempunyai kemampuan untuk mencetuskan gagasan dengan melepas diri dari pengalaman empiris dengan menyadari bahwa rasionalitas serta logika yang dipegangnya adalah turunan dari tabula rasa setiap insan. Tabula rasa—yang berarti kertas kosong—adalah kemampuan setiap pribadi yang baru lahir ke dunia untuk dapat belajar atau menciptakan sebuah ide baru. Melalui kesadaran terhadap hal empiris serta pemisahannya kepada ranah ide, pemisahan suatu sugesti dapat dilakukan.
Pengobatan Cina yang mengedepankan sugesti sebenarnya pula tidak menolak rasionalitas atau logika, ujar Asoka. Pengobatan Cina yang mengatur sugesti sebenarnya mengatur pula rasionalitas atau logika agar dapat memberi porsi seimbang antar dunia ide dengan dunia fisik yang berupa tubuh manusia itu sendiri. Maka dari karena itu, banyak personal asal daerah Barat yang datang ke Timur untuk mempelajari tentang sugesti dengant tujuan mengatur logika atau rasionalitas.
Pembicaraan kami dengan Asoka memang berlangsung cukup lama, menarik, serta kadang memang tak melahirkan poin-poin penting. Namun sedari perbincangan dengan Asoka, kami menyimpulkan bahwa ilmu Filsafat memandang konsep kesehatan sebagai pengaturan antara rasionalitas serta logika. Dengan mengedepankan keseimbangan, maka manusia telah sehat karena dapat berpikir menurut kaidah dan penalaran yang merupakan kemampuan dasarnya.
Penutup
Kesehatan merujuk kepada dinamika pola hidup yang sehat, penerapan pola hidup sehat dapat dilihat dari beberapa aspek seperti kehidupan sosial yang baik, spiritual yang sehat, kesadaran pentingnya kesehatan, penerapan disiplin ilmu untuk menciptakan keseimbangan kerja dan lingkungan dan sebagainya. Kesehatan dipandang sebagai sebuah misi atau tugas, kesadaran diri, dan juga sebuah keseimbangan.
Dari hasil wawancara, kami mendapatkan banyak makna kesehatan yang berbeda, tapi masih ada hubungan satu dengan lainnya. Mulai dari kesehatan secara fisik atau jasmani, yang memandang sehat itu berarti tidak ada gangguan pada tubuh manusia dan semua organ berfungsi sebagaimana mestinya; kesehatan secara psikis yang menganggap kesehatan merupakan sebuah kesadaran seseorang akan dirinya maupun orang lain; dan kesehatan sebagai pengaturan keseimbangan antara rasionalitas dan logika.
Rasa ingin tahu kami akan satu kata yang bisa memiliki makna yang berbeda-beda menuntun kami kepada kesadaran mengenai pentingnya sudut pandang. Berbagai makna yang membuka pikiran kami bahwa memang benar tidak semua hal se-’simple’ itu. Kami sangat terbantu dengan pengetahuan yang akhirnya kami dapatkan, dan kami juga berharap begitu juga dengan pembaca.



Comments