Melihat Di Balik Sebuah Bencana
- Pipin Mukharomah

- Dec 28, 2018
- 12 min read
Pipin Mukharomah dan Salma Gracia Utomo

Berusaha peka terhadap kode bumi, tinggal di Indonesia menjadikan kami sedikit akrab dengan berbagai peristiwa yang menimpa alamnya. Isu dan berita mengenai bencana, entah itu karena peristiwa alam atau ulah manusia kerap kami dengar. Fakta bahwa Indonesia merupakan negara kepulauan yang terletak pada pertemuan tiga lempeng tektonik yaitu lempeng Indo-Australia, lempeng Eurasia, dan lempeng Pasifik menjadikan negara ini salah satu negara dengan potensi bencana yang cukup tinggi, menjadikan gunung meletus dan gempa bumi menjadi bencana yang cukup sering terjadi di Indonesia.
Seperti beberapa waktu lalu, bencana Palu dan Donggala menjadi sorotan berita utama di berbagai media. Bertepatan dengan penggarapan tulisan ini pula, beberapa hari lalu telah terjadi bencana tsunami di Banten yang juga sedang mendapat banyak perhatian dari masyarakat. Sadar atau tidak, berbagai bencana yang terjadi pada sebuah wilayah juga akan mempengaruhi perilaku sehari-hari atau bahkan lebih luas lagi, mempengaruhi kebudayaan sebuah masyarakat yang mendiami wilayah tersebut.
Lingkungan merupakan segala sesuatu yang ada di sekitar manusia dan mempengaruhi perkembangan kehidupan manusia. Relasi antara lingkungan dan manusia terus dikaji oleh para antropolog. Bahkan pada tahun 1960-an antropolog di Amerika banyak menjadikan bencana sebagai topik kajiannya. Ada beberapa alasan yang membuat antropolog pada masa itu mengkaji bencana, yakni (a) Antropologi dianggap tepat mengkaji bencana karena bidang ilmu ini membahas semua wilayah yang terkena bencana, (b) Bencana seringkali merupakan akibat dari interaksi manusia dengan alam. Pola interaksi tersebut merupakan fokus kajian antropologi.
Baru-baru ini banyak sekali penelitian yang memaparkan bahwa sebuah kebudayaan terbentuk dalam rentang waktu yang panjang. Salah satu faktor yang mempengaruhi munculnya sebuah kebudayaan adalah sejarah bencana yang pernah terjadi pada wilayah tersebut. Melalui temuan-temuan yang ada, antropologi bencana mulai berkembang dan banyak dikaji oleh para antropolog, dapat dilihat bahwa semakin banyak karya-karya etnografi mengenai bencana.
Salah satu contoh bahwa bencana mempengaruhi sebuah kebudayaan dapat terlihat dari rumah tradisional Indonesia yang sangat beragam. Mulai dari Joglo di Jawa, di Aceh ada rumah Krong Bade, rumah Gadang ada di Sumatera Barat hingga rumah Mbaru Niang di Wae Rebo semuanya sangat tradisional. Sebagian besar rumah tradisional Indonesia dibuat dengan kayu sebagai bahan baku utamanya, hal ini tentu sangat dipengaruhi oleh kondisi alam Indonesia pada masa lalu. Nenek moyang kita membuat hunian dengan kayu yang lebih tahan terhadap cuaca ekstrim dan lebih kokoh ketika terjadi bencana.
Akan tetapi, semakin berkembangnya modernisasi ternyata tidak terlalu ramah dengan keberadaan rumah-rumah tradisional tersebut. Padahal jika dibandingkan dengan rumah tradisional dari kayu, lebih tidak tahan terhadap bencana. Pada tulisan ini kami mencoba melihat dari kaca mata mahasiswa antropologi, geografi, dan psikologi.
Membaca Bencana melalui Bingkai Antropologi
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), bencana didefinisikan sebagai sesuatu yang menyebabkan (menimbulkan) kesusahan, kerugian, atau penderitaan; kecelakaan, bahaya. Namun, definisi bencana sebenarnya sangat subjektif, masing-masing wilayah, masyarakat, dan kebudayaan mempunyai definisi bencana yang berbeda-beda. Adapun dalam konteks aparatur pemerintahan Amerika Serikat, bencana diartikan sebagai sebuah sebutan khusus yang memfasilitasi bantuan yang tidak tersedia sampai pernyataan bencana seperti itu dibuat resmi, yang mana sebutan ini terikat pada kriteria tertentu (McMahan, 2013).
Dalam mengkaji sebuah bencana, Ben (2013) mengatakan bahwa antropologi dinilai memiliki posisi yang baik untuk membantu mendokumentasikan pengalaman yang dialami ketika terjadi bencana, terutama adalah dari kacamata masyarakat yang mengalami sebuah bencana. Untuk mencari tahu lebih dalam mengenai keterkaitan studi antropologi terhadap sebuah bencana kami mengkaji beberapa artikel dari Cultural Anthropology.
Salah satu artikel dalam Cultural Anthropology yang ditulis oleh Vivian Choi (2013), tugas para antropolog adalah untuk menyampaikan bagaimana makna dari sebuah bencana yang terjadi dan juga menerjemahkan ‘bencana’ ke dalam berbagai bentuk etnografi. Vivian menilai bahwa para antropolog sebenarnya ada di posisi yang sulit. Para antropolog yang mengkaji sebuah bencana dirasa akan sulit untuk memaknai subjek, objek, maupun pengalaman ke dalam sebuah bentuk etnografi yang “halus”, tanpa menjelekkan atau memandang buruk tragedi manusia terkait dengan bencana yang terjadi.
Bicara bencana, baik itu bencana alam maupun bencana karena ulah manusia, akan melibatkan berbagai bidang kehidupan seperti sosial, ekologi, teknologi, budaya dan juga ekonomi. Kim Fortun (2013) dalam tulisannya mengatakan, sebuah masyarakat yang tinggal dalam wilayah yang rawan terjadinya bencana, Jepang misalnya, warga masyarakat harus menyadari bahwa ancaman masalah yang dihadapi kelak bukan hanya mengenai masalah dalam berbagai struktur kehidupan - politik, teknologi, budaya, dan ekonomi yang ada di hadapan mereka. Mereka harus memahami bahwa struktur yang ada tersebut tidak memadai untuk berhadapan dengan realitas yang ada. Masyarakat harus mulai dapat berfikir, artikulasi, dan sosialitas baru guna menghadapi bila sewaktu-waktu terjadi bencana. Bersama realitas tersebut, sebuah bencana dapat menyebabkan perubahan sosial dan politik pada sebuah negara.
Untuk memahami lebih dalam mengenai bencana pada sebuah wilayah, tinggal untuk waktu yang lama di sebuah wilayah paska terjadinya bencana menjadi suatu poin yang penting untuk para antropolog. Dengan turut tinggal dalam jangka waktu tertentu, seorang antropolog akan lebih memahami kondisi yang muncul dan cara sistem warisan membatasi mereka dan bagaimana hal ini dikesampingkan (baik diskursif, politis, dan teknologi). Melalui metode tersebut, kita bisa memperoleh pemahaman yang terperinci mengenai apa yang belum dapat dipahami dan diatasi (Fortun, 2013).
Dalam mengkaji mengenai persoalan antropologi dan bencana, kami sekiranya sejalan dengan pernyataan Fortun, bahwa dengan menggunakan salah satu metode dalam studi etnografi yakni tinggal di dalam, akan menunjukkan kepada kita apa yang harus dilakukan. Meskipun kekuatannya sebagai metode adalah kapasitasnya untuk mengungkap penjelasan yang tersedia dan mengatur terknologi, tetapi melalui etnografi memungkinkan kita untuk membaca dunia ketika ada sesuatu yang bergeser, menunjuk ke arah keterputusan antara apa yang hidup dan dibangun, juga apa yang telah diartikulasikan. Modus aksi dinilai tepat untuk masa sekarang karena dinilai sangat reflektif sehingga dapat membuka jalur ke berbagai urutan dunia melalui perhatian pada apa yang terlewatkan (Fortun, 2013).
Apa yang Geografi bicarakan tentang Bencana?
Mengulas perihal bencana, kami rasa belum lengkap jika hanya melalui satu sudut disiplin ilmu saja. Beberapa waktu lalu, kami berkesempatan mengobrol dengan Pratma, salah satu mahasiswa Geografi Lingkungan [1]. Sebab, kami ingin mengetahui bagaimana geografi membicarakan perihal bencana.
Pada obrolan tersebut kami mendapat banyak sekali pengetahuan perihal kebencanaan dan kami juga sempat sharing pengalaman mengenai bencana yang pernah kami alami. Perbincangan kami mulai dengan mendiskusikan apa yang dimaksud dengan bencana pada ruang lingkup geografi.
“Bencana adalah suatu fenomena yang ‘unik’ secara materialistis yakni merusak atau membangun (bisa salah satu atau dua-duanya), kenampakan fisis (bentang alam, infrastruktur, dkk) dan mental (bikin trauma, bikin kreatif, meningkatkan rasa menghargai, dkk). Soalnya itu sesuatu yang sebenarnya unik, kan campur-campur yang dirasain. Mulai dari kesedihan, kepandaian harus gimana, ketakutan, dsb. Responku melihat bencana itu ya sesuatu yang ‘unik’ dan mengolah rasa” (Pratma, Mahasiswa Geografi Lingkungan, 12 Desember 2018).
Cukup menarik memang apa yang diujarkan oleh Pratma tentang apa itu bencana. Lebih menarik ketika ia berkata bahwa bencana itu sesuatu yang ‘unik’. Kami bertanya bagaimana ia bisa berkata demikian padahal ia belum mendapatkan mata kuliah tentang manajamemen bencana. Ia kemudian mengatakan bahwa itu semua berasal dari beberapa sumber bacaan yang pernah ia baca dan coba digabungkan dengan pemikirannya. Melalui sepenggal obrolan di atas, terlihat bukan bahasan teoretis dari geografi mengenai bencana memang, tetapi justru itulah yang kami cari, tukar pikiran dan menghasilkan pandangan baru mengenai sesuatu.
Baik pada perspektif antropologi maupun geografi, bencana diartikan sebagai sebuah fenomena yang diperbuat oleh manusia atau alam yang dapat merusak atau membangun kenampakan yang ada. Kenampakan yang dimaksud adalah kenampakan sosial dan kebumian. Bencana pada kenampakan sosial atau Pratma sebut sebagai hand-made disaster, disebabkan oleh aktivitas manusia dan perilakunya seperti membuang sampah sembarangan, mengemisikan polusi, dan sebagainya. Sedangkan bencana yang terjadi pada kenampakan alam dapat berasal dari dua sumber yakni lapisan bumi dan lapisan udara. Lapisan bumi seperti gejala tektonik, vulkanik, dsb (gunung berapi, gempa, tsunami) sedangkan lapisan udara seperti badai, tornado, gelombang-gelombang panas, dsb. Bencana alam terjadi sebab perilaku alamnya seperti sebuah siklus. Misalnya gunung berapi yang sewaktu-waktu bisa meletus karena sudah memiliki siklus.
Di tengah-tengah obrolan, kami sempat saling bercerita mengenai bencana yang masing-masing dari kami pernah alami. Ternyata, kami sama-sama pernah mengalami gempa bumi yang terjadi di Jogjakarta pada 27 Mei 2006. Saat itu, kami dan Pratma masih di bangku SD. Pratma menceritakan bahwa saat terjadi gempa, perasaan yang muncul saat itu panik, takut, dan kebingungan. Ia bercerita ketika gempa terjadi bukannya berlindung bersama orang tuanya tetapi malah mempraktikan simulasi bencana yang dipelajarinya di sekolah. Namun, saat ingin mempraktikkan hal tersebut, orang-orang disekitarnya seperti tidak mendukung dan tetap berlarian mencari perlindungan.
Selepas gempa berakhir, setelahnya masih ada isu tsunami yang membuat warga sekitar menjadi panik. Saat itu tidak ada posko di sekitar tempat tinggalnya sehingga mengharuskan ia dan keluarganya berlindung di luar rumah. Ia mengatakan bahwa hampir seluruh warga desanya juga tidur di luar rumah dan saling berdekatan satu sama lain karena takut akan terjadi gempa susulan atau tsunami. Jika diperhatikan dan dicari titik temunya, cerita Pratma tersebut sesuai dengan pemaparan yang ia katakan bahwa bencana itu ‘unik’.
Melalui cerita tentang gempa di atas, kami menemukan ada hal menarik yang perlu disoroti yakni mengenai penanggulangan dan mitigasi bencana. Saat mendengar cerita tersebut, kami sadar bahwa ketika itu penanggulangan bencana masih kurang, terlihat pada pendirian posko dan bantuan cepat tanggap yang belum terlaksana dengan baik. Mengenai mitigasi bencana di Indonesia, kami mendapat banyak sekali pengetahuan baru dari Pratma, ia banyak menceritakan keluh-kesahnya mengenai bagaimana kurangnya sistem mitigasi dan penanggulangan bencana di Indonesia.
Keluhannya dimulai dari simulasi bencana yang dilakukan di sekolah-sekolah dan juga pernah kami dapatkan pula. Simulasi bencana yang dibekalkan kepada siswa, menurutnya masih kurang benar dan dirasa belum mampu memberikan pengetahuan tentang bencana. Perlu adanya koreksi terkait dengan siapa yang membekali pengetahuan bencana tersebut. Akan lebih baik jika simulasi bencana dilakukan oleh pihak yang menguasai bidang kebencanaan seperti BNBP, SAR, dll. Selain sudah terpecaya, mereka juga dapat memberi penyuluhan bencana secara luwes dan lebih akurat.
Selain menyoroti kurangnya sistem simulasi bencana, Pratma juga mengamati tentang bagaimana masyarakat kurang menanggapi fakta bahwa Indonesia merupakan negara yang “laris bencana”. Ia juga menganjurkan kami untuk membaca artikel dari GeoTimes (2018) yang berjudul “Rasionalisasi Manusia Terhadap Bencana Alam”. Menurutnya, artikel tersebut sejalan dengan argumennya yang mengatakan bahwa sebenarnya masyarakat dan pemerintah pun masih kurang optimal dalam menanggapi fakta tersebut.
Sudah menjadi kebenaran umum dan diketahui oleh sebagian besar masyarakat bahwa Indonesia memiliki keistimewaan terkait kebencanaan. Berkaitan dengan itu, ia juga mengeluhkan bahwa pembangunan di Indonesia sendiri kurang ramah bencana sehingga tidak jarang pembangunan dilakukan hanya bertujuan untuk meningkatkan perekonomian tetapi tidak memandang risiko bencana yang ada. Tidak hanya itu, pembangunan di kawasan rawan bahkan pembangunan yang merusak alam juga masih “lestari”. Padahal pembangunan tersebut dapat berpotensi menimbulkan kerugian dan bahkan bencana.
Artikel GeoTimes yang Pratma tunjukkan kepada kami mengatakan bahwa “Jalur-jalur yang dilalui air laut (tsunami) justru dibangun kembali pusat ekonomi dan banyak pihak mengklaim Aceh bangkit dari keterpurukan pasca tsunami” (Faturrahman, 2018). Saat mendiskusikan artikel tersebut, kami dan Pratma sependapat bahwa masyarakat atau pihak yang berkaitan masih abai dengan fakta kebencanaan di Indonesia.
Solusi dari masalah bencana menurut Pratma yakni penyetaraan prioritas pembangunan ekonomi dengan mitigasi bencana. Serta harus mulai digalakkan penyuluhan dan pendidikan terkait kebencanaan. Kami menjadi sadar bahwa masalah kebencanaan dapat menjadi sangat kompleks. Bukan hanya sekadar siklus tetapi juga simbiosis antara manusia dengan alamnya yang memang sangat besar.
Masih mendiskusikan mengenai pemberian prioritas pembangunan di Indonesia yang harus mulai memperhatikan penanggulangan bencana. Menurut Pratma, Indonesia bisa meniru Jepang dan Amerika dalam masalah penanggulangan bencana. Ia pernah membaca artikel bahwa sekolah-sekolah di Jepang melakukan simulasi bencana gempa setiap bulan dan negara tersebut juga memiliki teknologi pendeteksi getaran hingga 50 detik sebelum gempa terjadi. Informasi tersebut ia pernah baca dari website DW yang berjudul “How Other Countries Do Emergency Preparedness”. Selain itu, ia juga menyarankan Indonesia untuk mulai meniru Amerika, sebab mereka mempunyai integrasi teknologi yang mantep, seperti wireless emergency alert system[3]. Ia mengatakan bahwa sistem tersebut seperti sms darurat ketika ada berbagai bencana seperti tornado, gempa, bahkan hingga penculikan.
Diskusi bersama Pratma sangat membuka pikiran kami, di sela-sela obrolan mengenai mitigasi bencana. Kami mendapatkan hal menarik lain yakni mengenai persepsi masyarakat terkait dengan bencana. Kebanyakan masyarakat sekarang ini, menganggap bencana sebagai azab atas perbuatan manusia-manusia di Indonesia. Bukan melarang masyarakat memiliki pandangan semacam itu tetapi masalahnya ada banyak orang yang memakai pandangan tersebut secara buruk. Misalnya seperti menganggap korban yang meninggal karena azabnya, justifikasi untuk mengusik tradisi-tradisi lama (larung sesaji, dsb) dan yang paling praktis yakni menimbulkan “pesimisme” dalam menanggapi bencana. Cukup menarik memang membicarakan persepsi masyarakat yang mempunyai pemikiran bahwa semua bencana yang terjadi itu karena “azab”.
Kami juga bertanya perihal apa yang sekarang ini menjadi perhatian Pratma berkaitan dengan kebencanaan. Ia mengatakan mungkin saja perubahan alam yang terjadi ini bisa berpotensi menjadi bencana jika kurang diperhatikan oleh manusia, yakni perubahan iklim. Saat berdiskusi dengan kami, ia sependapat dengan teori Milutin Milankovitch (1988 dalam Review of Geophysics:4) soal bagaimana bumi berperan dalam perubahan iklim. Pratma bercerita kepada kami bahwa ada salah satu argumen yang mengatakan “anti-climate changes” yang artinya bumi sendiri sudah bertambah panas karena telah mencapai siklusnya. Meskipun begitu, ia juga beropini bahwa aktivitas manusia masih menjadi penyebab utama yang lebih signifikan dibanding alam dalam terjadinya perubahan iklim dewasa ini.
Akan tetapi, ia juga mengatakan bahwa manusia juga semakin jelas memperburuk keadaan dengan perilaku mereka. Seharusnya manusia tidak perlu buang-buang emisi yang berbau asap seperti asap transpostasi atau pabrik yang mana mempercepat perubahan iklim terjadi. Bahkan, ia bercerita bahwa mulai dari kotoran hewan sampai sekecil kulit pisang pun sudah menyumbang emisi karbon (akibat membusuk) dan meningkatnya jumlah tumbuhan tani dan hewan ternak itu pun juga karena manusia.
Mendengar keluhan tentang bencana karena ulah manusia tersebut, kami sependapat karena memang benar bumi sekarang memanas, entah karena memang sudah siklusnya atau karena perilaku manusia yang ‘memanasi’-nya. Jadi, dapat ditarik benang merah, bumi memang sudah mempunyai perputaran masa dimana ia harus mengalami perubahan tetapi memburuk karena perilaku manusia terhadap bumi yang berlebihan.
Seusai Bencana : Psikologi Memandang Bencana
Sebuah bencana tidak hanya akan menimbulkan kerugian materi atau fisik seperti cacat atau bahkan kematian, melainkan juga dapat menimbulkan gangguan psikologis bagi masyarakat yang menjadi korban dari sebuah bencana. Kehilangan keluarga dan musnahnya seluruh harta benda dalam waktu yang singkat dapat menyebabkan seseorang menjadi shock, depresi, dan tidak jarang menimbulkan trauma.
Peristiwa yang menyangkut paska terjadinya bencana juga dikaji dalam antropologi. Beberapa waktu yang lalu, kami berkesempatan mengobrol dengan Sheril, salah satu mahasiswa Psikologi UGM angkatan 2017 [2], membahas mengenai bagaimana dampak bencana terhadap kesehatan mental seorang manusia dan terutama mengenai trauma paska bencana.
Sheril menjelaskan bahwa trauma dapat terjadi karena sebuah peristiwa yang menyebabkan seseorang syok, kaget jiwanya dan bahkan bisa mencapai tahap sangat terguncang sampai tidak bisa melakukan apa-apa. Biasanya penyebab trauma merupakan peristiwa yang terjadi dengan sangat tiba-tiba dan tidak pernah dibayangkan sebelumnya. Misalnya seseorang pernah mengalami, melihat atau mendengar kekerasan dalam rumah tangga atau sebuah peperang. Akan tetapi, pemaparan mengenai trauma di atas terbilang umum. Sebab, ada pula seseorang yang meski mengalami kejadian luar biasa, mengagetkan, dan sangat tiba-tiba tapi ia tidak terguncang dan tidak mengalami trauma.
Sebuah bencana, baik itu bencana alam maupun akibat ulah manusia dapat menjadi sebuah peristiwa yang meninggalkan rasa trauma bagi korban. Para korban bencana dapat merasa stres, tidak berdaya, dan mengalami perasaan duka yang mendalam. Sheril mengatakan bahwa setelah bencana terjadi, biasanya muncul sebuah fenomena yang disebut dengan honeymoon-face, yaitu rasa excited yang dialami oleh orang-orang, perasaan tertarik dan berdebar-debar, tetapi berbeda dengan rasa senang. Masyarakat akan merasa amaze dengan apa yang telah terjadi, mereka akan bersemangat membicarakan apa yang mereka alami, bencana yang telah terjadi akan menjadi topik terhangat dalam setiap obrolan. Baru setelah fase haneymoon-face, masyarakat akan mulai merasa tertekan karena bencana yang terjadi. Mereka mulai menyadari dan dapat memproses apa yang telah terjadi pada dirinya.
Sheril mencontohkan dalam bencana tsunami, seorang individu baru akan merasa tertekan setelah ia menyadari bahwa ia telah kehilangan harta, rumah, kendaraan, dan anggota keluarganya. Rasa kehilangan ini menyebabkan orang merasa tertekan dan kemudian akan menyebabkan seseorang mengalami trauma.
Sheril dan kami sependapat bahwa salah satu pihak yang akan sangat membantu paska terjadi bencana adalah para relawan. Mereka akan datang ke lokasi terjadinya bencana untuk membantu para korban baik pada segi materi maupun mental pada korban. Dalam Fakultas Psikologi UGM terdapat sebuah UKM relawan yang akan membantu para korban paska terjadi sebuah bencana. Mereka biasanya mengecek mental state para korban bencana, Sheril bercerita bahwa para mahasiswa yang menjadi relawan harus berhati-hati dalam mengucap sesuatu. Sebab, bisa jadi apa yang terucap dapat memancing ingatan mereka terhadap peristiwa pernah atau baru saja dialaminya. Hal tersebut dilakukan untuk mencegah korban terus mengingat peristiwa yang telah terjadi sehingga dapat mengurai rasa tertekan pada korban.
Jika korban masih terus merasa tertekan dan mengingat peristiwa yang mereka alami. Itu juga mengakibatkan para relawan kesulitan untuk mengetahui apa yang sebenarnya dirasakan pra korban. Sebab, mereka tidak mau terbuka dengan para relawan.
Cara relawan dari Fakultas Psikologi untuk mengecek kesehatan mental pada korban adalah dengan mengisi kuesioner yang telah disusun jauh sebelumnya. Relawan yang akan terjun juga akan diajarkan bagaimana bertanya pada korban, cara merawat dan memperlakukan korban, juga bagaimana cara mendekati korban yang masih shock.
Periode kesembuhan dari trauma juga berbeda tiap individu. Itu sesuai kerja keras mereka, atau juga dapat dipengaruhi oleh seberapa besar keterbukaan seorang individu dengan psikolog yang membantunya. Kesembuhan dari rasa trauma juga bisa dipengaruhi oleh bagaimana perspektif seorang individu dalam memandang situasi yang terjadi dihadapannya. Ia akan lebih mudah sembuh dari rasa trauma apabila ia sudah dapat menerima apa yang terjadi dengan dirinya.
Penyembuhan juga harus dilakukan dengan kerjasama antara psikolog dengan orang yang menderita trauma, atau dalam hal ini adalah seorang korban. Korban akan lebih cepat sembuh ketika ia dapat bersikap kooperatif. Ketika seorang individu menjadi korban dari sebuah bencana, ia juga akan secara alami akan memproses apa yang terjadi dengan dirinya. Penerimaan seorang individu dapat dipengaruhi oleh bermacam hal, seperti kebudayaan dan agama yang dianutnya.
Pada salah satu edisi Jurnal Psikologi UGM, menunjukkan bahwa sebenarnya pada masing-masing masyarakat atau kebudayaan terdapat sebuah tatanan sosial yang dapat membantu masyarakat untuk tidak terlalu merasa tertekan dengan terjadinya sebuah bencana. Seorang individu dapat terhindar dari rasa tertekan akibat bencana ketika ia mampu menghadapi krisis yang menimpa dirinya dengan mengandalkan berbagai potensi yang ada, sehingga tercipta sebuah keadaan pribadi dan mental yang sehat, keadaan kemudian disebut dengan psicological well-being (kesejahteraan psikologi), ditandai dengan berfungsinya enam dimensi psikologis positif, yaitu penerimaan diri, hubungan positif dengan sesama, otonomi, penguasaan lingkungan, tujuan hidup, serta petumbuhan pribadi dalam diri seorang individu (Amawidyati & Utami, 2007).
Bencana itu unik dan sebuah keniscayaan, pasti ada dan bisa datang sewaktu-waktu dan bencana tidak melulu soal kesedihan. Akibat dari bencana, manusia juga bisa mengambil hikmahnya. Itulah kesimpulan dari obrolan ngalor-ngidul kami bersama Pratma dan Sheril, memang bukan pembahasan teoretis dari ruang lingkup geografi dan dalam psikologi. Akan tetapi dari obrolan tersebut kami mendapat banyak pengetahuan mengenai bencana dari sudut pandang baru.
Referensi :
Amawidyati, S. A. G., & Utami, M. S. (2007). Religiusitas dan Psychological Well‐Being Pada Korban Gempa. Jurnal Psikologi, 34(2), 164-176.
Andreas, Damianus (2018). BNPB Sebut Buoy Pendeteksi Tsunami di Indonesia Rusak Sejak 2012. Tirto,id. Diakses melalui https://tirto.id/bnpb-sebut-buoy-pendeteksi-tsunami-di-indonesia-rusak -sejak-2012-c3Rn
Berger, A. (1988). Milankovitch theory and climate. Reviews of geophysics,26(4), 624-657
Choi, Vivian. (2013). Disaster: Translation. Cultural Anthropology. Diakses melalui https://culanth.org/fieldsights/150-disaster-translation.
Faturahman,B. (2018). Rasionalisasi Manusia Terhadap Bencana Alam. GeoTimes. Diakses melalui https://geotimes.co.id/opini/rasionalisasi-manusia-terhadap-bencana-al am/
Florene, U.(2016). Habis Pembangunan Terbit Kehancuran. Rappler. Diakses melalui https://www.rappler.com/indonesia/137345-pembangunan-ekonomi-da mpak-ben cana):
Fortun, Kim. (2013). Disaster: Integration. Cultural Anthropology. Diakses melalui https://culanth.org/fieldsights/207-disaster-integration.
Martin, Nik. (2016). How Other Countries Do Emergency Preparedness. DW. Diakses melalui https://www.dw.com/en/how-other-countries-do-emergency-prepared ness/g-1950 9153
McMahan, Ben. (2013). Disaster: Provocation. Cultural Anthropology. Diakses melalui https://culanth.org/fieldsights/144-disaster-provocation.
Nadzir, I. (2012). Tinjauan Buku: Membaca Perubahan Iklim Melalui Bingkai Antropologi. Jurnal Masyarakat & Budaya,14 (3), 625-635.
NASA (2010). Is Current Warming Natural. EarthObservatory. Diakses melalui
https://earthobservatory.nasa.gov/features/GlobalWarming/page4.php
Sumampouw, OJ. (2015). Diktat Pencemaran Lingkungan. Diakses melalui https://www.researchgate.net/publication/278243063_Diktat_Pencemar an_Lingkungan.
[1] Wawancara dengan Pratma, mahasiswa Geografi Lingkungan UGM, 12 Desember 2018. Kami mengganti dan menyamarkan semua mahasiswa yang kami ajak diskusi karena mahasiswa tersebut kurang berkenan jika namanya dipublikasikan.
[2] Wawancara dengan Sheril, mahasiswi Psikologi UGM, 11 Desember 2018. Kami mengganti dan menyamarkan semua mahasiswa yang kami ajak diskusi karena mahasiswa tersebut kurang berkenan jika namanya dipublikasikan.
[3] Vsauce (2013, May 20). If [Video file]. Diakses melalui https://youtu.be/QBK3QpQVnaw



Comments