Memotret Kejauhan Sumba dari Dekat
- Fathi Mujadidi

- Nov 30, 2018
- 5 min read
Muhammad Fathi Mujadidi & Harits Naufal Arrazie

Mengambil Gambar
Terik matahari menggantungi Fakultas Ilmu Budaya UGM siang itu. Beberapa mahasiswa duduk sambil berbincang pada jejeran bangku-bangku hitam persis di depan Gedung Soegondo. Seorang dari mereka—sembari menghisap batang rokok dari ujung jarinya—memantau dari jauh kerumunan yang sedang berkumpul di Uma Humba (atau tepatnya seperempat bagian rumah sumba). Aku dan beberapa teman waktu itu sedang sibuk menggandrungi kamera yang sebelumnya aku gunakan untuk menjepret gambar-gambar pada rangkaian Festival Sumba 2018 ini. Sudah beberapa hari terakhir memang bangunan yang cuma seperempat bagian itu ramai diisi oleh orang-orang, baik mereka yang menghadiri workshop pada siang hari ataupun cuma sekedar duduk-duduk dan mengobrol sorenya. Selama bangunan ini bertahan, mungkin akan selalu menjadi spot yang menyenangkan untuk bertahan dari sengatan terik matahari siang.
Khusus hari Jum’at itu, cukup melelahkan untukku karena sedari pagi aku sudah mondar mandir di sekitar Gedung Soegondo, menggotong sebatang tripod dan kamera yang strap-nya sudah agak basah karena keringat. Setelah beberapa kali memotret gambar dari workshop di lantai lima Gedung Soegondo, kulihat ada sebuah pesan masuk di Whatsapp yang dengan lugas mengatakan bahwa “tolong turun sekarang, kerbaunya sudah datang”. Tanpa basa-basi, kembali kugotong tripod dan kukalungkan kamera sembari meninggalkan ruangan workshop dan melesat turun. Tepatnya di belakang Gedung Margono, sudah terdapat dua ekor kerbau yang nampaknya sedang beristirahat santai dibawah teduhan gedung. Beberapa mahasiswa Sumba juga kulihat sibuk mengelilingi dan mendadani si kerbau dengan hiasan tanduk yang terbuat dari daun dan aksesoris lainnya. Setelah selesai mendandani, mereka menyanyikan lagu-lagu seperti merapal mantra pada kedua sapi itu. Kelihatannya kedua ekor sapi sudah cukup akrab dengan para mahasiswa karena cukup dengan dielus-elus dan disebut namanya saja, sudah sangat anteng berdiri tanpa tali pengikatnya.
Penghujung bulan Oktober biasanya gerimis sudah sering mampir untuk menandai datangnya musim hujan, tapi siang itu tampak sangat jelas bahwa langit dan awan sudah berkonspirasi untuk menghadirkan suasana panas dan agak gersang. Aku juga tidak ingat kapan terakhir kali pelataran Fakultas Ilmu Budaya diguyuri air hujan. Selepas orang-orang tadi merapalkan mantranya, aku kembali ke Gedung Soegondo dan merapihkan peralatan memotret. Sampai kemudian, terdengar suara teriakan seperti melolong yang sangat keras dan disusul dengan lagu yang mengiringi datangya orang-orang dari gerbang barat FIB UGM. Mengenakan pakaian adat Sumba, orang-orang tadi didominasi oleh laki-laki—meskipun ada sekitar empat atau lima orang perempuan membersamai mereka. Kamera yang tadinya sedang digeluti oleh temanku pun sontak terambil oleh tanganku dan diikuti gerak kaki yang melangkah cepat ke arah gerbang selatan FIB UGM, karena tepat dari arah gerbang di samping Gedung Margono, dua ekor kerbau yang sudah cantik dengan hiasan pada tanduk-tanduknya berjalan pelan diiringi oleh kelompok lainnya yang juga berpakaian adat Sumba.
Kedua kelompok tersebut kemudian bertemu dan pada sepetak halaman kecil persis di depan seperempat rumah Sumba tempat banya orang berkumpul tadi. Salah satu dari mereka yang datang dari sisi timur (mengenakan pakaian adat dan hiasan kepala seperti topi) seperti memperkenalkan diri menggunakan bahasa daerah mereka. Begitu pula dengan perwakilan orang-orang yang datang dari sebelah barat. Setelah apa yang kupikir perkenalan dan berbincang-bincang, kemudian kedua kelompok tersebut kembali berteriak-melolong sambil mengacungkan senjata-senjata yang mereka bawa seperti tombak dan parang ke langit. Masing-masing perwakilan tadi kemudian mulai melakukan gerakan-gerakan seperti menari, entah itu aba-aba atau bukan, tapi seingatku semua orang dengan pakaian adat dan ikat kepala mulai menari-nari, sambil terus berteriak melolong.
Kemudian kejadian-kejadian yang berlangung sekaligus siang itu seakan menjadi aneh; aku berada di kampus, siang itu terik sekali, bahkan hampir tak berawan, namun tidak sekalipun aku merasa ingin berteduh. Aku sibuk mondar-mandir mencari sudut-sudut yang tepat untuk mengambil gambar orang-orang ini. Menjadi menarik buatku karena tak pernah sekalipun aku ke Sumba, bahkan melihat video di Youtube tentang kehidupan dan ritual orang-orang di sana pun tidak pernah. Tapi perasaanku yakin betul bahwa suasana ritual ini, yang dilakukan di kampus FIB UGM Yogyakarta ini, tak jauh berbeda dengan apa yang ada di Sumba saat mereka melaksanakan ritual serupa. Mataku melihat Sumba dalam pakaian-pakaian yang dikenakan oleh orang-orang yang menari di depan Uma Humba, telingaku mendengarkan alunan musik sumba yang ditabuhkan oleh mereka, disertai juga dengan sengatan sinar matahari yang terlampau terik saat itu.
Memahami Proses
Setelah prosesi tadi, Profesor Laksono kemudian mengadakan semacam ritual lainnya dengan bermain alat-alat musik serta berbincang dengan beberapa perwakilan orang-orang Sumba—layaknya seorang tamu yang sedang dijamu oleh empunya rumah. Aku pikir antusiasme masyarakat FIB sangat besar sekali terhadap kegiatan ini, terlihat dari tumpukan orang-orang yang asyik melihat sambil beberapa kali mengambil gambar dengan kamera telepon genggam mereka. Jarang sekali ada sesuatu yang sifatnya seperti upacara ritual seperti ini ada di kampus, dan menurutku ini menarik perhatian banyak orang, begitu pula dengan diriku yang sibuk potrat-potret sedari tadi. Tapi belum tentu juga sebagian orang ini paham apa yang sebetulnya sedari tadi dilakukan.
Belakangan aku pun baru tahu tujuan ritual yang bernama Kedde ini—dengan beberapa usaha seperti mencari di internet atau bertanya-tanya kepada panitia acara. Di Tanah Humba tempat upacara Kedde ini berasal, umumnya ritual ini diadakan sebagai sebuah tradisi dan pesta adat masyarakat setempat untuk mengiringi ritual pemakaman jenazah salah satu orang atau keluarga terdekat mereka. Namun pada saat yang bersamaan, ritual ini juga menjadi semacam penyambutan untuk arwah para leluhur yang menurut kepercayaan mereka, turut menghadiri kegiatan mereka dalam upacara kematian ini.
Pada dasarnya esensi utama dari ritual ini adalah menghormati para leluhur yang sudah jauh lebih dulu meninggalkan mereka. Maka dari itu dibawakannya dua ekor kerbau bukanlah tanpa alasan, melainkan juga sebagai sesembahan yang ditujukan untuk para leluhur. Meskipun pada prosesi aslinya, mereka harus ‘mempersembahkan’ secara harfiah kerbaunya dengan cara menyembelihnya. Namun hari itu karena mungkin menyembelih hewan berupa kerbau pada pelataran kampus akan menuai banyak hal yang tidak diinginkan, jadi kedua kerbau itu hanya diarak dan dibawa kembali lagi.
Dari panitia pula aku baru tahu bahwa dalam rangkaian prosesi tadi, dibutuhkan kerjasama dari Departemen Antropologi dan LAURA UGM dengan beberapa himpunan mahasiswa Sumba yang terdapat di Yogyakarta. Prosesi tadi pun baru kusadari adalah pertemuan antara himpunan Sumba Timur dan Sumba Barat. Dan kupikir untuk sebuah prosesi acara, tarian serta nyanyian pada upacara tadi cukup menghibur untuk ditampilkan—meskipun tidak semua orang mampu memahaminya.
Berkaca pada Sumba
Menjadi bagian dari rangkaian kegiatan Festival Sumba 2018 ini bukanlah hal yang kurencanakan sejak awal—bahkan kalau bukan seorang teman yang meminta tolong secara personal untuk membantu mendokumentasikan rangkaian kegiatan ini di tengah riuh rendah kesibukan kuliah belum tentu aku mau, namun aku akhirnya menerima ajakan tersebut. Tapi sepertinya apa yang kudapatkan dari keputusan itu mampu melebihi bayangan serta ekspektasi yang bisa kupikirkan. Dengan kata lain, terpaksa untuk selalu ada dalam tiap rangkaian kegiatan ini selama seminggu malah memberikan banyak pelajaran yang sebelumnya tak mampu kupahami; salah satunya adalah berkaca sebelum memberikan kaca.
Uma Humba, tarian dan lagu adat, pakaian eksotis, serta berbagai teriakan yang saling bersahut dalam upacara tadi menjadi suatu refleksi tersendiri untukku; bahwasanya tidak semua hal yang aku baca dan coba mengerti dari mereka, bisa benar-benar aku pahami maknanya. Bukan hal yang salah apabila menganggap upacara tadi sebagai bentuk sebuah pementasan dan hiburan khas yang eksotis milik Sumba, namun perlu diketahui juga bahwa hal ini menunjukkan bahwa diantara budaya-budaya yang dimiliki oleh tiap kelompok masyarakat pasti memiliki keunikannya masing-masing bersamaan dengan makna yang dibawakannya. Untuk mampu memahami dan saling pengertian atas satu tradisi dengan yang lainnya adalah sesuatu yang aku dapatkan dari sini.
Profesor Laksono, penanggungjawab sekaligus orang yang berkontribusi besar dalam pelaksanaan festival ini, membuat sebuah pernyataan yang cukup menarik buat saya. Dalam pidato penutupnya pada akhir rangkaian simposium di festival ini, aku menafsirkan pernyataan beliau bahwa ritual ini bukan semata-mata diadakan karena ini dinamakan Festival Sumba 2018, jadi haruslah dibuat juga penampilan ritual dari orang-orang Sumba ini. Ritual ini, lengkap dengan seluruh elemennya; seperempat rumah Sumba, dua ekor kerbau yang didandani, sekumpulan orang berenjata dengan pakaian adat, dan lolongan yang tak terhitung di atas rumput taman FIB UGM yang sedang gersang-gersangnya, bukan semata-mata ingin menunjukkan keeksotisan tempat yang jauh dari jangkauan. Ritual ini, bahkan keseluruhan festival ini, bukan diadakan untuk membuat kita seakan-akan pergi ke Sumba, namun berusaha untuk merengkuh dan menghadirkan Sumba kepada kita.



Comments