top of page

Suasana British di Tanah Sultan

Updated: Apr 10, 2019

oleh: Akhmad khanif, Alfian Nurhidayat, Muhammad Dian Saputra Taher, dan Vidya Ramadhani


Dokumen Pribadi

Café Berkonsep British Vintage

Saat ini, perkembangan bisnis kafe di Indonesia khususnya di kota-kota besar semakin berkembang sangat pesat. Banyak bermunculan wirausahawan yang membuka usaha kafe dengan berbagai konsep atau ide-ide yang dibuat untuk memikat pelanggan dari berbagai kalangan.


Saat mengunjungi kafe, konsumen tidak hanya mencari produk berupa makanan dan minuman saja, tetapi menginginkan juga untuk mendapatkan pengalaman yang berbeda.


Dari hal tersebut, Sulastri (2016) berpendapat bahwa pelaku bisnis sudah seharusnya mampu memberikan konsumennya pengalaman berbeda dengan cara menerapkan strategi experiential marketing. Mereka harus mampu memberikan sensasi dan kesan “wah” dari konsumen setelah datang berkunjung ke kafe. Sehingga konsumen memiliki ketertarikan untuk datang kedua kalinya, bahkan dengan bantuan media sosial, konsumen dapat memamerkan suasana nongkrong di kafe yang akan menarik konsumen lain.


Salah satu kafe di Yogyakarta yang menawarkan sensasi baru yaitu Café Brick. Café Brick mengangkat konsep British vintage sebagai daya tarik mereka. Café Brick menyediakan desain interior dan eksterior yang berbeda dari kafe lain. Sensasi baru yang ditawarkan Café Brick menjadi sesuatu yang pertama di Yogyakarta karena belum ada kafe lain yang mengusung konsep British vintage sebelumnya.


Dikutip dari Jauharoh (2018), supervisor Café Brick, Oky Setiadi menjelaskan bahwa Café Brick ini baru didirikan tahun 2017. Kafenya sudah dibuka perdana tanggal 20 Maret 2017, tetapi soft opening-nya tanggal 10 April 2017. Dikutip dari Agustina (2017), Manajer Operasional Cafe Brick, Agustinus Indarto mengatakan bahwa owner dari Cafe Brick sempat bertugas di London dan ingin membawa memori dari London tersebut ke Yogyakarta.


Memori tersebut di antaranya pengalaman ngopi di pinggir jalan, karenanya Cafe Brick dikonsep layaknya benar-benar sedang menikmati suasana pedestrian di Inggris.


Kafe berkonsep British sebenarnya sudah ada di kota lain. Di Makassar ada kafe berkonsep European British yang diberi nama Café London. Walaupun begitu, konsep interior dan eksterior yang dihadirkan dari Café Brick di Yogyakarta dan Café London di Makassar berbeda. Jika kami membandingkan, Café Brick jauh lebih estetik dari segi eksterior karena mampu menyuguhkan konsep British secara keseluruhan.


Jika dilihat dari jalan raya, Café Brick sudah terlihat berbeda dan sangat mencolok. Saat memasuki halaman parkir kafe, kami sebagai pengunjung benar-benar disuguhkan suasana British tempo dulu. Kami merasa seperti menginjakkan kaki di daratan Inggris setelah memasuki kawasan kafe, dan suasana Yogyakarta yang biasa kami rasakan tiba-tiba sirna.


Ketika pertama menginjakkan kaki di halaman utama kafe ini pada Sabtu, 30 Maret 2019, seketika suasana langsung berubah dari bangunan gaya khas Yogyakarta menuju ruang Eropa, yakni British vintage style. Mata kami langsung tertuju pada tembok yang seolah-olah terbuat dari bata merah dan membuat kesan homey bagi setiap pengunjung yang datang. Lampu jalan bernuansa Eropa Lama dan kotak telepon merah di dekat pintu masuk semakin menguatkan nuansa Sangat-Tidak-Jogja.


Ruang dalam kafe memiliki suasana yang tidak jauh berbeda dengan halaman depannya. Interior kafe didesain menyerupai suasana yang ada di British lama. Di sebelah pintu masuk, terdapat meja yang dihiasi oleh barang-barang lama seperti mesin ketik jaman dulu. Lagu yang diputar di dalam kafe tersebut juga berasal dari penyanyi-penyanyi barat tempo dulu yang semakin memberikan kesan retro. Aroma kopi menyeruak ketika kami masuk ke dalam, berasal dari meja yang berisikan banyak kopi tidak jauh dari pintu masuk.


Kami duduk di pojok, dekat pintu keluar, yang kursinya dibuat menyerupai tempat duduk prioritas di bus London, diperlihatkan oleh tanda kursi prioritas yang dikhususkan untuk ibu hamil, orang tua, dan disabilitas. Di sebelah tempat duduk kami, terdapat sebuah lemari yang berisi koleksi miniatur kendaraan-kendaraan lama. Tembok di belakang tempat duduk kami dihiasi wallpaper berisikan doodle yang membentuk bendera Inggris. Kami juga sempat menjelajah ke lantai atas kafe tersebut, yang juga memiliki desain interior tidak jauh berbeda. Terdapat rak berisikan buku-buku tua, salah satunya bahkan berasal dari tahun 1959. Buku-buku tersebut beraroma persis seperti buku yang telah ada sejak lama, seperti buku tua, tetapi tidak apak.


Kafe dan Kota

Kafe dan kehidupan kota tidak dapat dipisahkan, mengapa kami katakan demikian? Karena kafe pada mulanya menjadi tempat dimana para pekerja (industri) melepas penat, menghabiskan waktu mengobrol, kafe menjadi leisure time bagi mereka. Sedangkan pada kehidupan pedesaan, yang sebagian besar masyarakatnya adalah petani, keberadaan kafe menjadi tidak penting, bagi mereka leisure time adalah saat di sawah atau ladang. Atau hanya sekedar mengobrol dengan tetangga, mereka kurang membutuhkan adanya tempat yang eksklusif seperti kafe.


Begitu pula dengan keberadaan Café Brick di Sleman, tempat ini seolah menjadi ruang baru bagi para pengunjungnya untuk menghabiskan leisure time mereka dengan teman maupun keluarga. Kesan konsep British yang unik, seolah menjadi daya tarik tersendiri bagi pengunjung, sehingga banyak dari mereka yang mengambil gambar pada berbagai sudut kafe. Suasana yang dapat kami rasakan disini cukup nyaman, pemutaran lagu lawas yang terkesan slow, membuat suasana tenang semakin terbangun.


Adanya workspace menjadikan Café Brick ataupun kafe-kafe yang lainnya hanya disediakan bagi orang-orang kota. Workspace ini yang biasanya digunakan untuk pertemuan atau rapat kerja, juga untuk mengerjakan tugas bagi para pelajar dan mahasiswa. Workspace biasanya akan ramai pada siang hari, kemudian sepi pada sore hari, dan ramai lagi pada malam hari. Hal ini karena terkait fungsinya, yakni hanya digunakan oleh mereka yang bekerja atau berkegiatan pada jam-jam itu.


Café Brick ramai hanya pada jam-jam tertentu saja. Karena kebanyakan yang berkunjung adalah mahasiswa atau mereka yang sekadar mengambil foto dengan latar bangunan kafe ini, maka kondisi ramai hanya pada waktu malam hari atau weekend. Hal ini terkait dengan kebiasaan mahasiswa mengerjakan tugas mereka pada malam hari dan kebiasan pengunjung yang hanya mengambil foto atau menghabiskan leisure time mereka pada saat weekend. Rasa nyaman yang diberikan serta keunikan konsep dari bangunan Café Brick membuat tempat ini dapat dikatakan ramai pengunjung.


Pada kenyataannya, kafe merupakan tempat yang hanya cocok dan dapat berfungsi apabila ditempatkan pada wilayah kota. Hal ini bukan tanpa sebab, konsep kafe yang kebanyakan mengusung bangunan modern, seperti pemutaran musik dengan keras, hadirnya waktu 24 jam, dan hal lain membuat kafe tidak cocok dengan kehidupan pedesaan. Kafe yang dibangun di wilayah desa kebanyakan ditolak oleh warga sekitar.


Dikutip dari laman Panjimas (2016), misalnya seperti kasus Cafe Danar yang berada di Desa Krakal Arum, Karanganyar mendapatkan protes dari warga supaya segera ditutup. Permasalahannya adalah suara musik yang mengganggu ketenangan warga sekitar, serta kedatangan para pengunjung yang ramai pada malam hari mengganggu jam belajar dan waktu istirahat warga sekitar. Dapat diasumsikan pula, keberadaan Cafe Brick dengan konsep yang terdeskripsi pada paragraf di atas, jika ditempatkan di wilayah desa maka tidak akan memenuhi fungsi-fungsinya, dibandingkan jika kafe ini ditempatkan di wilayah kota.



Bukan Hanya Sekedar Tempat untuk Makan

Alternatif wisata atau tempat nongkrong seru di Yogyakarta akhir-akhir mulai bermunculan. Banyak kafe yang menghadirkan konsep-konsep menarik yang mampu memanjakan mata pengunjung. Café Brick yang merupakan café berkonsep british vintage pun tak mau kalah dalam menawarkan segudang spot selfie menarik. Demam pamer foto melalui media sosial Instagram nampaknya benar-benar dimanfaatkan oleh Café Brick untuk menarik para pengunjung, khususnya para muda-mudi di Yogyakarta.


Media sosial tidak dapat dilepaskan dari kehidupan banyak anak muda. Muda-mudi zaman sekarang begitu peduli dengan citra kehidupan mereka yang terlihat di dunia maya. Terkait tempat nongkrong sekaligus tempat makan misalnya, hal tersebut bukan menjadi rahasia lagi jika kaula muda memilih tempat nongkrong karena melihat review di internet.


Ningrum (2018), mengatakan bahwa review dari internet dijadikan acuan kaula muda sebagai referensi mereka. Seberapa menarik lokasi itu saat diunggah ke media sosial, apakah ada layanan WiFi gratis, apakah tempatnya nyaman, seakan sudah menjadi patokan umum. Bahkan, poin-poin itu dianggap lebih penting daripada menu makanan dan minuman yang disediakan. Karena tempat nongkrong didatangi bukan karena alasan lapar atau haus, melainkan untuk sekedar melepas penat di tengah kesibukan atau mencari suasana baru untuk membangkitkan semangat baru.


Dikutip dari Situmorang (2017), kafe-kafe banyak yang menyasar kalangan anak muda sebagai target pasar, hal tersebut dikarenakan budaya berkumpul bersama yang semakin tinggi. Saat ini Kafe bukan hanya sebagai tempat untuk makan dan minum, pengunjung juga menjadikan kafe sebagai tempat untuk merayakan acara-acara spesial seperti ulang tahun, reunian dan lain-lain.


Selain itu, konsumen juga mengutamakan tempat yang nyaman, menarik dan unik untuk dikunjungi. Maka dari itu, menurut kami Café Brick sudah mampu memfasilitasi daya tarik yang diinginkan oleh anak-anak muda, yaitu tempat makan yang unik, instagramable, sangat kekinian, dan yang pasti akses menuju kafe sangat mudah.


Daftar Pustaka

  1. Agustina, Sinta. 2017. Kuliner Jogja - Dirancang dengan Aksen Batu Bata, Cafebrick Hadirkan Suasana Pedestrian Inggris, http://travel.tribunnews.com/2017/09/08/kuliner-jogja-dirancang-dengan-aksen-batu-bata-cafebrick-hadirkan-suasana-pedestrian-inggris?page=all. Diakses pada tanggal 2 April 2019.

  2. Anonim. 2016. Resahkan Warga, FUI Karanganyar Desak Cafe Danar yang Buka Dekat Masjid dan SDIT Ditutup. https://www.panjimas.com/news/2016/12/31/resahkan-warga-fui-karanganyar-desak-cafe-danar-yang-buka-dekat-masjid-dan-sdit-ditutup/. Diakses pada tanggal 2 April 2019.

  3. Jauharoh, Sari. 2018. CAFE BRICK Memboyong Vintage Eropa ke Sisi Jogja. https://www.yogyes.com/id/yogyakarta-culinary/cafe-brick/. Diakses pada tanggal 2 April 2019.

  4. Ningrum, Restia. 2018. Café Brick, Tempat Nongkrong Instagramable di Jogja Bernuansa Eropa. https://ublik.id/cafe-brick-jogja-bernuansa-eropa/. Diakses pada tanggal 2 April 2019.

  5. Situmorang, Trisnawan. 2017. Pengaruh Desain Produk dan Suasana Toko Terhadap Kepuasan Konsumen Yang Berdampak Kepada Perilaku Word of Mouth (Studi pada Sosmed Café Medan Jl. Teuku Umar No. 3 Madras Hulu, Medan). Skripsi. Medan: Universitas Negeri Medan.

  6. Sulastri, Maulina. 2016. Pengaruh Experiential Marketing dan Marketing Mix Terhadap Kepuasan dan Loyalitas Konsumen (Studi pada Empat Kafe di Kota Padang). Diploma thesis. Padang: Universitas Andalas.

Recent Posts

See All

Comentarios


Subscribe

LOGO UGM.jpg
LOGO KEMANT.jpg

Gd. R. Soegondo lt. 5 FIB UGM
Jl. Sosiohumaniora No. 1
Bulaksumur, Yogyakarta 55281

Crafting Ethnography 

Departemen Antropologi FIB-UGM

  • Twitter

©2018 'Crafting Etnography' Creative Team

bottom of page