Terminologi Teknologi: Sebuah Tinjauan Pespektif Antropologi dan Teknik
- Alfian Nurhidayat
- Dec 25, 2018
- 10 min read
Oleh: Alfian Nurhidayat dan Reza Setiawan
Konsep teknologi sangat menarik untuk dibahas karena, teknologi tidak dapat dilepaskan dari campur tangan manusia. Jika ditinjau dari sejarah, kehadiran manusia purba pada masa pra sejarah hanya mengenal teknologi sebagai alat bantunya dalam mencari makan, alat bantu dalam berburu, serta mengolah makanan. Alat bantu yang digunakan relatif sederhana, hanya terbuat dari bambu, kayu, batu, dan bahan sederhana lain yang mudah mereka jumpai di alam bebas. Seiring perkembangan zaman, manusia berhasil menemukan penemuan-penemuan baru berupa teknologi. Penemuan-penemuan tersebut berujung pada kemajuan teknologi. Kemajuan teknologi tidak bisa kita hindari dalam kehidupan ini, karena kemajuan teknologi akan berjalan sesuai dengan kemajuan ilmu pengetahuan. Setiap inovasi diciptakan untuk memberikan manfaat positif bagi kehidupan manusia. Memberikan banyak kemudahan, serta sebagai cara baru dalam melakukan aktifitas manusia.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, teknologi merupakan keseluruhan sarana untuk menyediakan barang-barang yang diperlukan bagi kelangsungan dan kenyamanan hidup manusia. Pengertian tersebut sejalan dengan pendapat Henslin dalam Ngafifi (2014:36), bahwa istilah teknologi dapat mencakup dua hal. Pertama, teknologi menunjuk pada peralatan, yaitu unsur yang digunakan untuk menyelesaikan tugas. Kedua, keterampilan atau prosedur yang diperlukan untuk membuat dan menggunakan peralatan tersebut.
Dari penjelasan diatas dapat dilihat persoalan teknologi tidak harus berhubungan dengan mesin, melainkan segala sesuatu yang dapat mempermudah atau meringankan pekerjaan manusia. Untuk memahami konsep teknologi, kami tidak hanya berfokus pada satu disiplin ilmu. Tetapi konsep teknologi juga dapat dipahami dalam ilmu sains dan ilmu humaniora. Beberapa disiplin ilmu yang menaruh perhatian pada konsep teknologi diantaranya antropologi, teknik planologi dan teknologi pertanian.
Teknologi dalam Antropologi
Sebagai suatu disiplin, antropologi dikenali sebagai ilmu yang mempelajari liyan (the others) atau orang lain. Sebab yang menjadi kajian utamanya adalah perbedaaan yang terdapat pada manusia, keberagaman masyarakat, baik masyarakat tradisional atau pun modern, dari yang sederhana hingga yang kompleks. Apa yang ditawarkan Antropologi adalah cara pandang lintas budaya yang berbeda, khusus dan unik, serta melakukan perbandingan antar masyarakat dalam aspek-aspek tertentu seperti kebiasaan-kebiasaan, kehidupan sosial, bahasa, ciri atau sifat fisik, kepercayaan, tingkah laku, aktivitas ekonomi-politik, seni bahkan agama.
Masyarakat sekaligus kebudayaannya menjadi pokok bahasan utama dalam antropologi, dan menjadi kajian utama bagi para antropolog dalam penelitiannya. Tidak dipungkiri bahwa teknologi juga menjadi bagian dari kajian antropologi. Hal tersebut dapat dipahami melalui munculnya konsep teknologi sebagai spesialisasi dari ilmu antropologi yaitu antropologi teknologi. Menurut Botin dkk, (ed.) (2015), antropologi teknologi adalah bidang penelitian multidisipliner yang muncul dan berfokus pada interaksi hubungan manusia dengan teknologi, dan bagaimana hal ini dapat dipahami dan difasilitasi dalam konteks. Antropologi teknologi juga mempertimbangkan bagaimana inovasi, pengembangan, dan implementasi teknologi dapat dibuat dengan cara yang tepat dan pragmatis dalam kaitannya dengan memahami praktik kerja.
Kemajuan tingkat kebudayaan dan peradaban manusia juga mempengaruhi perkembangan teknologi. Semakin maju kebudayaannya, semakin berkembang teknologinya karena teknologi merupakan perkembangan dari kebudayaan yang maju dengan pesat (Adib dalam Ngafifi 2014:36). Sedangkan menurut Tremblay (2015), kemajuan dalam perkembangan dan penyebaran teknologi yang baru, terutama pada ponsel pintar dan media sosial, telah mendorong skala akademis yang luas dan perdebatan popular tentang tempat dari teknologi di masyarakat. Namun, meskipun ada kekhawatiran baru yang muncul akibat perubahan teknologi yang cepat, para antropolog dan ilmuwan sosial lainnya telah lama terlibat dalam diskusi teoritis dan praktis tentang bagaimana teknologi dalam berbagai bentuknya berinteraksi dengan budaya manusia. Pembelajaran ini mengeksplorasi keprihatinan terhadap teknologi yang baru dari awal abad ke-20 hingga zaman sekarang, dengan fokus pada dua jenis teknologi utama, yaitu media baru dan infrastruktur berskala besar. Teknologi-teknologi ini telah mendorong para antropolog untuk mempertanyakan dinamika mendasar yang membentuk perubahan budaya dan teknologi, pembentukan identitas, struktur representasi dan kekuasaan, proyek-proyek politik, dan produksi makna.
Secara tidak langsung dapat kita pahami bahwa teknologi sangat berpengaruh terhadap suatu kebudayaan masyarakat. Kebudayaan masyarakat mempengaruhi cara berfikir, berinteraksi, membuat sesuatu, dan menyimbolkan sesuatu. Pada akhirnya hal tersebut menimbulkan adanya perubahan yang saling bergantungan antara kebudayaan masyarakat dan teknologi. Selain itu, teknologi yang menjadi bagian dari kebudayaan dapat kita lihat melalui 7 unsur kebudayaan yang salah satunya adalah sistem peralatan hidup dan teknologi. Menurut Atiek, C. B, & Siany, L. (2009:65), teknologi yang dimaksud adalah jumlah dari semua teknik yang dimiliki oleh para anggota dalam suatu masyarakat yang meliputi cara bertindak dan berbuat dalam mengelola dan mengumpulkan bahan-bahan mentah. Unsur teknologi yang sangat menonjol adalah kebudayaan fisik yang meliputi alat produksi, senjata, wadah, makanan dan minuman, pakaian, perhiasan, tempat tinggal, perumahan, dan alat-alat transportasi.
Menurut pemahaman Richard dan Rodgers (dalam Sutirna, 2018:176), konsep teknologi tidak melulu hanya berupa alat, tetapi kita dituntut untuk memahami alat tersebut. Otomatis cara berfikir kita mengenai alat itu akan berubah. Urusan-urusan teknologi tidak hanya urusan yang berhubungan dengan sebuah alat, tetapi juga urusan yang berhubungan dengan moralitas, etika, hubungan sosial, religi, bahkan market place. Sehingga teknologi sangat berkaitan dengan manusia, karena teknologi diproduksi oleh manusia. Pemahaman konsep teknologi dalam disiplin ilmu teknik berkaitan dengan pembuatan alat, merespon kebutuhan manusia dalam pembuatan teknologi yang membuat manusia nyaman dan sesuai dengan kebutuhan manusia. Sedangkan pemahaman konsep teknologi dalam disiplin ilmu antropologi berkaitan dengan alat itu digunakan sehingga membuat pola-pola tertentu yang mempengaruhi tindakan mereka dalam menggunakan alat tersebut. Selain itu, disiplin ilmu antropologi teknologi juga mengkaji bagaimana manusia menggunakan teknologi, manusia terpengaruh dengan teknologi, manusia membentuk teknologi dan dibentuk oleh teknologi.
Permasalahan yang sering kali kita temukan dalam disiplin ilmu antropologi selalu berkaitan dengan penggunaan teknologi tersebut. Akibat dari teknologi yang mempermudahkan manusia, hal tersebut dapat mempengaruhi perubahan sikap manusia sehingga berujung pada perubahan relasi sosialnya. Maka dari itu dengan adanya teknologi manusia perlu mengkondisikan diri terhadap tepat atau tidaknya menggunakan teknologi tersebut agar tidak memiliki ketergantungan yang berlebihan. Teknologi dapat membuat segala sesuatu menjadi lebih mudah, gampang dan cepat, tetapi kemudian teknologi juga membuat manusia menjadi malas.
Beberapa contoh kasus yang dapat kita lihat pada kenyataannya yaitu, ketika teknologi transportasi online yang menyediakan pelayanan mengantarkan makanan membuat manusia tidak lagi bersusah payah untuk berusaha memperoleh makanan, manusia hanya membutuhkan alat teknologi berupa smartphone dan kuota internet untuk memesan makanan. Dari kasus tersebut terlihat jelas bagaimana teknologi dibuat untuk mempermudah manusia, namun ketika pemanfaatannya juga berlebihan dapat membuat relasi sosial yang asalnya berjalan lancar, kemudian relasi sosialnya malah terputuskan begitu saja.
Secara umum perkembangan teknologi sangat berkaitan dengan kebutuhan yang ingin dipenuhi oleh manusia. Ketika kebutuhan manusia sangat kompleks maka solusinya adalah membuat teknologi dan memanfaatkan teknologi. Tetapi saat kebutuhan masing-masing manusia tidak begitu kompleks maka pemanfaatan teknologi juga tidak berlebihan. Sehingga penggunaan teknologi yang telah berkembang sangat bergantung pada masing-masing individu.
Planologi dalam Implementasi Teknologi
Teknologi dapat diartikan sebagai pengembangan dan aplikasi dari alat, mesin, material dan proses yang menolong manusia menyelesaikan masalahnya. Ketika orang berpikir tentang "teknologi" mereka cenderung berpikir tentang peninggalan manusia seperti mesin, perangkat elektronik, perangkat keras, atau sistem manufaktur industri. Namun definisi menurut College Dictionary, teknologi memiliki makna yang lebih umum yang mencakup setiap "pengaplikasi praktis terhadap pengetahuan" atau "cara menyelesaikan tugas". Untuk melampaui intuisi yang sederhana tentang teknologi, dibutuhkan penyelidikan pemikiran manusia dan lingkungan sosial-budaya serta interaksi dengan peninggalan teknologi (Isman, 2012: 207).
Dari hasil miniriset yang kami lakukan kepada mahasiswa pascasarjana fakultas teknik mengenai konsep teknologi, dapat dilihat terdapat perbedaan pemahaman mengenai konsep tersebut. Secara umum konsep teknologi dari disiplin ilmu teknik dapat didefinisikan sebagai suatu cara dimana kita mampu melakukan hal dengan metode lain. Dengan kata lain, teknologi berarti mempermudah apa yang kita lakukan atau kerjakan. Menurut salah satu narasumber kami yaitu Naufal seorang mahasiswa semester 7 dari Jurusan Teknik Perencanaan Wilayah dan Tata Kota (Planologi), teknologi tidak harus selalu berhubungan dengan mesin. Hal tersebut sejalan dengan pendapat yang dikemukakan oleh Isman (2012:207), bahwa penggunaan teknologi oleh manusia tidak hanya melibatkan mesin (misalnya, perangkat keras komputer) dan instrumen, tetapi juga mencakup hubungan terstruktur dengan manusia, mesin, dan lingkungan lainnya. Singkatnya, teknologi lebih dari sekadar kumpulan mesin dan perangkat. Narasumber menjelaskan contoh sederhana dari penerapan teknologi misalnya roda, roda dapat digunakan untuk memindahkan berbagai barang. Itu juga termasuk teknologi, yang penting dapat membantu kehidupan manusia.
Dari definisi yang telah disebutkan oleh narasumber, teknologi dapat menandakan perilaku, cara, dan kemampuan yang terlibat dalam menerapkan pengetahuan teknis yang sistematis. Menurut Isman (2012:209), dalam arti umum, teknologi dapat berupa cara di mana gerakan fisik dasar digunakan, dan kadang-kadang dikaitkan dengan kegiatan non-ilmiah. Misalnya, seperti contoh yang telah disebutkan oleh narasumber diatas dan contoh lain seperti teknik dalam merangkai bunga.
Konsep teknologi di Teknik Planologi lebih berhubungan dengan pemetaan. Biasanya teknologi yang membantu dalam pemetaan di jurusan Teknik Planologi itu GIS atau Georaphic Information System. Jadi GIS ini bisa membantu untuk pemetaan, seperti halnya google maps jadi sangat membantu untuk menentukan penitikan atau penepatan lokasi. GIS merupakan program komputer yang sangat bermanfaat khususnya dalam dunia perencanaan wilayah dan kota terutama dalam hal penyajian informasi-informasi secara grafis. GIS dapat menyajikan suatu data dengan jelas serta lengkap (Humas, 2016).
Permasalahan kewilayahan perlu juga bantuan teknologi. Menurut narasumber yang merupakan mahasiswa teknik planologi, kalau orang zaman dahulu itu terjun langsung kelapangan. Kalau sekarang, sebelum terjun kelapangan, harus tahu dulu gambaran umum lokasi tersebut dibantu dengan teknologi seperti GIS. Jadi sebelum tur singkat harus melihat peta gambaran umumnya. Studi kasus dari pemerapan teknologi dalam kewilayahan atau tata kota contohnya adalah pengaplikasian smart city pada kota-kota besar salah satunya Kota Surabaya. Smart City didukung oleh penggunaan teknologi informasi dan komunikasi secara terintegrasi, dimana teknologi komputasi digunakan secara cerdas. Cerdas disini berarti adanya penggunaan instrumen sensor seperti cctv yang peka dan cepat dalam mengelola informasi baik untuk mengambil keputusan maupun mengambil tindakan (take action).
Dari penjelasan diatas dapat dikatakan bahwa teknologi memang berhubungan dengan instrumen atau alat. Teknologi dapat membuat pekerjaan manusia menjadi lebih cepat, tepat dan akurat. Dengan teknologi membuat kita mampu mengerjakan segala sesuatunya menjadi lebih baik. Teknologi itu berfungsi sebagai "enabler" instrumen yang membuat kita memiliki kapasitas yang lebih besar dalam bekerja dan memperoleh kualitas yang lebih bernilai. Dengan begitu, teknologi harus digunakan secukupnya saja, jangan terlalu berlebihan juga karena dapat membuat orang malas. Perkembangan teknologi membuat manusia terlena. Teknologi memang dapat memudahkan pekerjaan manusia tetapi tidak untuk mengubah atau menggantikan.
Konsep Teknologi dalam Pertanian
Konsep teknologi tidak hanya dapat kita temukan di dalam disiplin ilmu teknik saja, melainkan dalam disiplin ilmu pertanian sering kali kita temukan konsep tersebut. Pada umumnya teknologi dalam bidang pertanian dijadikan satu kesatuan yakni teknologi pertanian. Teknologi pertanian adalah penerapan dari ilmu-ilmu terapan dan teknik pada kegiatan pertanian. Sehingga dalam definisi tersebut dapat kita lihat bahwa terdapat pula peran dari ilmu teknik di dalam teknologi pertanian. Menurut Mangunwidjaja dan Sailah (2009), teknologi pertanian merupakan penerapan prinsip-prinsip matematika dan ilmu pengetahuan alam dalam rangka pendayagunaan secara ekonomis sumber daya pertanian dan sumber daya alam untuk kesejahteraan manusia.
Teknologi pertanian telah berkembang semenjak sistem mata pencaharian dikenal orang. Namun demikian sepanjang sejarahnya teknologi itu telah mengalami perubahan-perubahan dari masa ke masa, sesuai dengan kemajuan-kemajuan yang diperoleh dalam hal ilmu pengetahuan yang mendukung tanggapan aktif manusia terhadap lingkungan. Sesuai dengan perkembangan itu, maka akan terdapat teknologi tradisional dan teknologi masa kini. teknologi pertanian tradisonal yang telah berkembang dari masa ke masa merupakan tanggapan aktif masyarakat terhadap lingkungan dalam mengolah benda-benda alam menjadi benda-benda kebutuhan. Teknologi tersebut pada saat ini tidak diketahui secara cermat baik data maupun informasinya dalam bentuk peralatan maupun cara penggunannya, sedangkan di lain pihak sebagian besar dari teknologi itu masih dipergunakan oleh masyarakat. Kenyataan ini akan menyebabkan pula terjadinya ketimpangan dalam pemakaian teknologi itu, karena tidak dihayati lagi teknologi itu secara utuh dan komplek (Abu dkk, 1990: 2).
Berangkat dari teori tersebut, dalam hasil perbincangan kami bersama beberapa mahasiswa semester 3 jurusan teknologi industri pertanian menyatakan terdapat perbedaan pemahaman dengan disiplin ilmu teknik. Secara umum konsep teknologi yang digunakan dalam disiplin ilmu teknologi industri pertanian ialah berkaitan dengan pengolahan dan manajemen tumbuhan. Penjelasan tersebut sejalan dengan pendapat Soeprodjo (1994) bahwa cakupan teknologi pertanian meliputi berbagai penerapan ilmu teknik pada cakupan objek formal dari budidaya sampai pemasaran. Dalam hal ini konsep teknologi lebih tepat digunakan pada persoalan publikasi tanaman. Publikasi tanaman merupakan suatu proses pengolahan dan manajemen lahan pertanian yang dilakukan melalui pertumbuhan vertikal sebagai upaya mengurangi lahan tanaman, namun produktivitas tanaman tertap bagus.
Pada disiplin ilmu teknologi pertanian, konsep teknologi diterapkan pada proses pasca panen. Fokus pembahasannya lebih kepada sistem informasi manajemen data produksi, kontrol pertumbuhan tanaman, kontrol lingkungan. Sehingga dalam hal ini teknologi dapat dilihat sebagai proses pengembangan pengolahan tanaman. Teknologi pada kajian teknologi pertanian juga merupakan suatu hal yang diciptakan untuk membantu kebutuhan manusia pada bidang pertanian dan mengurangi human eror. Sehingga dalam proses tersebut teknologi menjadi sesuatu yang penting dalam menghasilkan produktivitas hasil pertanian. Penjelasan tersebut sejalan dengan yang dikatakan Fatchiya dkk (2016:190), bahwa penerapan teknologi inovasi pertanian berperan dalam meningkatkan produktivitas usaha tani, sehingga berpeluang untuk meningkatkan kesejahteraan hidup, yang salah satunya diindikasikan dari meningkatnya ketahanan pangan rumah tangga petani.
Perkembangan teknologi ternyata cukup mempengaruhi teknologi dalam bentuk pertanian secara khusus. Teknologi secara umum dapat dilihat sebagai sesuatu yang sudah berkembang pesat saat ini, namun keberadaan teknologi di bidang pertanian ternyata tidak demikian. Teknologi dalam bidang pertanian sudah mengalami perkembangan, namun yang menjadi permasalahan secara umum perkembangan tersebut belum terlihat jelas. Banyaknya perubahan-perubahan teknologi pertanian yang tidak didukung oleh masyarakat menyebabkan hal tersebut menjadi masalah bagi mereka yang menekuni bidang teknologi pertanian. Keberadaan teknologi dalam bidang pertanian ternyata tidak secara utuh didukung oleh seluruh masyarakat Indonesia. Hal tersebut dapat dipungkiri akibat dari permasalahan kultural yang masih melekat pada masyarakat. Seperti halnya pada rasa cepat puas yang dialami masyarakat tradisional. Mereka cenderung lebih mudah terpuaskan dengan apa yang telah diperoleh. Ketika terdapat suatu perkembangan teknologi dalam bidang pertanian yang ia geluti, hal tersebut malah kurang di respon dengan baik.
Menurut Abu dkk (1990:2), disamping itu sejauh mana peranan dan pengaruh kebudayaan dalam teknologi pertanian tradisional belum diketahui secara cermat. Hal ini menjadi hambatan-hambatan untuk melakukan pembaruan di dalam bidang pertanian, maka selanjutnya akan dianalisa dan diarahkan perkembangan teknologi pertanian tersebut ke arah yang lebih berdaya guna. Di lain pihak melihat peranan dan pengaruh kebudayaan itu akan dapat pula mengungkapkan tanggapan aktifnya masyarakat terhadap lingkungan.
Di era revolusi industri 4.0 secara langsung juga mempengaruhi perubahan teknologi pada umumnya. Terkhusus pada bidang pertanian perubahan tersebut sangat dirasakan. Diperkirakan pada beberapa tahun yang akan datang pertumbuhan manusia akan bertambah, hal tersebut juga akan berpengaruh kepada meningkatnya kebutuhan yang ingin dipenuhi. Secara langsung pemenuhan kebutuhan tersebut akan juga berpengaruh kepada perubahan lahan pertanian yang menjadi sempit. Sehingga dalam perubahan era ini konsentrasi disiplin ilmu teknologi pertanian mengatasi persoalan tersebut. dengan melakukan berbagai pengembangan teknologi-teknologi untuk menciptakan proses pengelolaan dan manajemen tanaman yang tetap produktif.
Konsep teknologi merupakan suatu pemahaman yang interdisiplin. Sehingga dalam berbagai disiplin kita dapat menemukan pemahaman konsep tersebut. Misalnya dalam disiplin ilmu antropologi, konsep teknologi menjadi satu kesatuan yaitu antropologi teknologi. menurut pemahaman mereka teknologi dilihat sebagai konsep yang tidak melulu hanya berupa alat, tetapi kita dituntut untuk memahami alat tersebut. Selain itu urusan-urusan teknologi juga berhubungan dengan moralitas, etika, hubungan sosial, religi, bahkan market place. Perlu diketahui bahwa teknologi merupakan bagian dari 7 unsur kebudayaan, sehingga antara teknologi dan kebudayaan tidak dapat dipisahkan.
Dilihat dari sudut ilmu teknik, konsep teknologi dapat dipahami sebagai reaksi dari keresahan manusia terhadap kebutuhan yang ingin dipenuhi. Konsep teknologi dalam disiplin ilmu teknik juga tidak melulu berkaitan dengan mesin, namun segala sesuatu yang mampu membantu meringankan aktivitas manusia. Selain itu, dalam disiplin ilmu teknik juga sangat banyak bentuk konsep teknologi yang bisa kita temukan. Seperti teknik planologi atau perencanaan wilayah dan tata kota yang lebih mengandalkan GIS dan pemetaan. Sedangkan menurut disiplin ilmu teknologi pertanian, konsep teknologi tidak dipahami sebagai alat ataupun produk teknologi. Namun lebih kepada proses pengelolaan dan manajemen lahan pertanian agar tumbuhan yang dihasilkan tetap produktif. Dengan kata lain konsep teknologi tersebut dalam teknologi pertanian dapat dilihat sebagai bentuk efisiensi lahan pertanian.
Referensi
Abu, R. dkk, 1990. Teknologi Pertanian Tradisional Sebagai Tanggapan Aktif Masyarakat Terhadap Lingkungan di Cianjur. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Atiek, C. B, & Siany, L. 2009. Khazanah Antropologi 1. Jakarta : Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional.
Botin, dkk (ed). 2015. Techno-Anthropology in Health Informatics. Amsterdam: IOS Press.
Fatchiya, A. dkk. 2016. “Penerapan Inovasi Teknologi Pertanian dan Hubungannya dengan Ketahanan Pangan Rumah Tangga Petani.” Jurnal Penyuluhan, 12 (2): 190-197.
Heidegger, Martin. 1977. The Question Concerning Technology. London & New York: Garland Publishing.
Humas, Elin. 2016. “Workshop Green Infrastructure Technology.” http://www.itera.ac.id/workshop-green-infrastructure-technology/ Diakses 12 Desember 2018.
Isman, Aytekin. 2012. “Technology and Technique: An Educational Perspective.” TOJET: The Turkish Online Journal of Educational Technology, 11(2): 207-213.
KBBI. https://kbbi.web.id/teknologi Diakses 12 Desember 2018.
Mangunwidjaja, D. dan Sailah, I. 2009. Pengantar Teknologi Pertanian. Bogor: Penebar Swadaya.
Murhada, & Yo Cheng Giap. 2011. Pengantar Teknologi Informasi. Jakarta: Mitra Wacana Media.
Ngafifi, M. 2014. “Kemajuan Teknologi dan Pola Hidup Manusia dalam Perspektif Sosial Budaya.” Jurnal Pembangunan Pendidikan: Fondasi dan Aplikasi, 2(1): 33-47.
Soeprodjo. 1994. Pengembangan Bidang Ilmu dalam Disiplin Teknologi Pertanian. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Sutirna. 2018. Inovasi dan Teknologi Pembelajaran. Yogyakarta: Deepublish.
Tremblay, J. 2015. “Anthropology and New Technologies.” Silabus. Dept. of Anthropology, University of Toronto.







Comments